Welcome

Berawal dari ketiadaan, kita berpikir dan belajar untuk menciptakan. Membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih berarti dan lebih bermanfaat. "Mari berbagi manfaat" #Give thank to Allah, the Creator of all things.
Showing posts with label Sistem Informasi. Show all posts
Showing posts with label Sistem Informasi. Show all posts

Thursday, March 21, 2013

Sistem Informasi dalam Al Qur’an




Di dalam mempelajari sesuatu seringkali kita kurang memperhatikan bahwa suatu karya pada hakikatnya merupakan realisasi dari kehendak penciptanya. Kurangnya perhatian terhadap hal yang demikian tadi membuat kita sulit untuk menentukan secara pasti mengenai motivasi dan tujuan dari dilakukannya suatu kegiatan.

Di dalam salah satu tulisan di media elektronik,  dan juga pernah terlontar dalam suatu forum diskusi yang informal, suatu pertanyaan yang mendasar tetapi obyektif dan kritis sehingga menarik untuk direnungkan, yaitu tentang proses penyusunan Al Qur’an.

Pertanyaannya adalah mengapa penyusunan ayat-ayat Al Qur’an itu terkesan tidak teratur atau acak-acakan, topik dari ayat-ayatnya terlihat meloncat-loncat, tidak seperti buku-buku pada umumnya yang pola penyusunannya sudah menggunakan kaidah-kaidah penulisan suatu karya tulis, sehingga alur penjelasannya menjadi runtut dan teratur.  Dengan cara penyusunan ayat yang topiknya meloncat-loncat, maka apabila surat dibaca secara runtut dari awal hingga akhir, hasilnya adalah kebingungan pada saat mau membuat kesimpulan dari apa yang telah dibaca tersebut.

Kejanggalan-kejanggalan sistim penulisan tersebut antara lain dapat disebutkan sebagai berikut,
Pertama, adanya hubungan yang tidak jelas antara topik suatu kelompok ayat dengan kelompok lainnya dalam suatu surat. Gejala semacam ini sangat dirasakan oleh mereka yang tidak mengerti tulisan maupun bahasa Arab. Dengan kondisi yang demikian tersebut, maka satu-satunya usaha pemahaman  yang memungkinkan untuk dilakukan hanyalah belajar melalui Tafsir Al Qur’an.

Kedua, hal yang serupa juga dapat dilihat pada hubungan judul surat dengan ayat-ayat yang ada di dalamnya. Padahal fungsi judul adalah menunjukkan tema dari topik atau pokok-pokok pikiran dari seluruh ayat yang ada. Dengan demikian, seharusnya antara judul surat dengan ayat-ayat yang ada di dalamnya terdapat hubungan  makna yang erat sekali. Namun kenyataan yang ada tidak demikian. Bahkan terdapat 4 surat yang judulnya tidak dapat dialih bahasakan. Kondisi yang demikian ini disertai dengan tidak adanya penjelasan yang logis, dapat berakibat pada menurunnya  rasa ingi tahu.

Ketiga, meskipun ayat-ayat maupun susunan ayat-ayatnya tidak berubah, tetapi judul surat bahkan judul Al Qur’annya sendiri  lebih dari satu. Berbeda halnya dengan karya manusia, dengan materi tulisan yang sama buku ilmu pengetahuan hanya mampu menjelaskan satu tema pokok yang tertentu, tidak bisa lebih.

Keempat, yang perlu direnungkan, meskipun fakta-faktanya menunjukkan adanya ketidak teraturan, namun manusia tidak di benarkan untuk merubah posisi surat maupun posisi ayat di dalam suatu surat. Sebab dalam salah satu ayatnya disebutkan bahwa metoda penyusunan yang demikian itu merupakan cara Tuhan di dalam menjelaskan kandungan keilmuan Al Qur’an, oleh karena itu bersifat otoritatif.

Sesungguhnya telah Kami datangkan sebuah Kitab kepada mereka. Kami jelaskan atas dasar-dasar ilmu pengetahuan dari Kami sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. 7 Al A’raaf: 52).

Catatan: lihat juga QS. An Nisa’: 166; QS. 17 Al Israa’: 36 dan QS. 8 Al Anfaal: 22.

Dari ayat tersebut di atas, dengan jelas dinyatakan bahwa metoda yang dipakai di dalam penyusunan Al Qur’an sudah menggunakan dasar-dasar atau kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, jadi bukan sekedar hanya merupakan kumpulan informasi yang bersifat historis- normatif. Dengan disebutkannya ilmu pengetahuan dari Kami menunjukkan bahwa, obyek kajian Al Qur’an bukan hanya sebatas ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki oleh manusia sekarang, tetapi bahkan sampai akhir jaman kandungan keilmuannya tak akan pernah selesai dikaji.
Seandainya semua pohon-pohonan di bumi dijadikan pena dan lautan menjadi tintanya, sesudah kering ditambah lagi dengan tujuh lautan, semuanya akan kering, namun tak akan habis-habisnya Kalam Allah dituliskan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Luqman: 27)

Catatan: lihat juga QS.18 Al Kahfi: 109.
Obyek kajian Al Qur’an meliputi seluruh ciptaan Tuhan, baik yang bersifat fisikal maupun yang nonfisikal (gaib). Dari seluruh mahluk ciptaan Tuhan yang ada, dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu alam dan manusia.

Dan bagi orang-orang yang yakin, di muka bumi terdapat ”tanda-tanda kekuasaan Tuhan”. Dan pada dirimu sendiri ”tanda-tanda kekuasaan Tuhan” itu tidakkah kamu perhatikan?
(QS. Adz Dzaariyaat: 20; 21).

Seluruh ciptaan Tuhan pada hakikatnya adalah ayat yang sering sekali disebut sebagai tanda-tanda kekuasaan Tuhan atau sunatullah yang secara faktual kita sebut sebagai seluruh fenomena alam semesta. Antara alam dan manusia terdapat persamaan dan perbedaan yang mendasar. Persamaannya, kedua-duanya terdiri atas  unsur-unsur yang bersifat fisikal maupun yang nonfisikal. Sedangkan perbedaannya, pola kehidupan alam sudah given atau sudah pasti sehingga alam tidak mampu menjadikan dirinya sendiri seperti apa yang dikehendakinya.

Atau dengan kata lain dapat disebutkan bahwa kepatuhan alam terhadap perintah Tuhan bersifat total. Berbeda halnya dengan manusia yang oleh Penciptanya dikarunia akal budi dan kehendak bebas (freewill). Dengan adanya  kehendak bebas tersebut maka setiap manusia mempunyai kehendak, keinginan atau nafsu serta kemampuan merealisasikan kehendak tersebut, misalnya membuat dirinya sendiri menjadi seperti apa yang diinginkannya.
Dengan adanya pengertian ayat sebagai fakta, maka fakta-fakta yang bersifat fisikal keberadaannya dapat ditangkap oleh pancaindera, tidak demikian halnya dengan fakta-fakta yang gaib, misalnya malaikat, jin dan ruh. Berbeda dengan kegaiban mahluknya, kegaiban Tuhan bersifat absolut karena hanya sebagian kecil dari pengetahuan tentang diri-Nya yang diberikan kepada manusia. Dengan demikian manusia tidak mungkin akan mampu memahami totalitas dari Dzat Tuhan.

Karena fakta menurut pengertian Al Qur’an meliputi yang fisikal maupun yang gaib, maka rasionalitas Al Qur’an bukanlah rasionalitas yang bersifat materialistis seperti ilmu pengetahuan Barat, Keberadaan kegaiban merupakan suatu fakta oleh karena yang gaib juga bersifat rasional. Yang seringkali terjadi, sesuatu itu dikatakan gaib apabila penjelasan rasionalnya belum ada, tetapi apabila fenomena tersebut sudah mampu dijelaskan secara rasional maka dia sudah tidak dianggap bersifat gaib lagi.

Dari waktu ke waktu, cara berfikir manusia senantiasa mengalami perkembangan, semakin lama semakin kritis, realistis, sistimatis dan logis. Kondisi perkembangan manusia yang demikian tersebut merupakan indikator tentang perkembangan kebutuhan manusia terhadap ilmu pengetahuan.  Sampai dengan saat sekarang ini, konstruksi pemahaman agama sebagai suatu ilmu pengetahuan, kebanyakan masih terbatas kepada hal-hal yang bersifat historis-normatif seperti misalnya sorga- neraka, dosa-pahala, kisah para nabi maupun orang-orang yang hidup pada masa lalu lengkap dengan segala  ancaman-ancaman (?) Tuhan. Ini bukan masalah benar atau salah, tetapi mengingat perkembangan manusia yang demikian tadi, apakah model pemahaman yang demikian tadi masih relefan sehingga tetap harus dipertahankan kelangsungannya.

Berdasarkan atas perkembangan pemikiran manusia tersebut,  maka yang lebih diperlukan adalah digalakannya Kajian Islam. Salah satu caranya adalah melakukan pemikiran-pemikiran atau usaha untuk mentransendensikan Al Qur’an supaya pemahamannya tidak hanya terfokus kepada Kajian Keislaman, yaitu pemikiran ataupun warisan-warisan masa lalu yang kebanyakan masih bersifat historis-normatif, sehingga  menyebabkan tersekat-sekatnya pemahaman oleh ajaran-ajaran, doktrin-doktrin yang dogmatis maupun intepretasi yang bersifat ekstra subyektif. Sebab pemikiran-pemikiran yang demikian tadi cenderung mengakibatkan tersendatnya dialog apabila berbicara dengan orang yang belum/tidak pernah mengalaminya.

Berdasarkan atas QS. Al A’raaf: 52 seperti yang sudah disebutkan di atas, Al Qur’an sudah seharusnya diposisikan sebagai sumber informasi, sumber data-data serta sebagai ilmu pengetahuan tentang kehidupan alam semesta dengan segala kehidupan yang ada di dalamnya. Dengan demikian kita menjadikan Al Qur’an bukan semata-mata sebagai postulat teologis tetapi sekaligus juga memposisikannya sebagai sumber teori. Elaborasi yang dilakukan terhadap konstruk-konstruk teoritis Al Qur’an yang demikian tadi pada akhirnya akan menghasilkan perumusan-perumusan teoritis yang dapat dipakai untuk membangun perspektif Al Qur’an di dalam memahami realita kehidupan.

Apabila kita melihat sistim pengetahuan Islam yang murni (Al Qur’an), sesungguhnya Islam mengajarkan cara berfikir yang rasionalistis-empirisdan kontekstual. Namun dalam perkembangannya seringkali didominasi oleh pemahaman-pemahaman yang magis dan mistis, sehingga akhirnya fungsi Al Qur’an tak ubahnya sebagai gudang mantra. Padahal pada sisi lainnya, Al Qur’an berkali-kali menekankan arti penting dari penggunaan akal pikiran dalam mencari pengetahuan melalui kegiatan observasi.

Penggunaan akal pikiran atau sikap rasionalistis membutuhkan kerangka pemikiran yang disiplin, kritis, sistimatis dan logis dengan logika deduktif sebagai sendi pengikatnya. Pada sisi lainnya terdapat dunia empiris yang obyektif, yang berorientasi pada fakta sebagaimana adanya. Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari dunia  empirik secara induktif merupakan tonggak penguji terhadap suatu teori tentang kebenaran. Sebab kebenaran suatu keilmuan bukan sekedar merupakan kesimpulan rasional yang koheren dengan sistim kebenaran ilmu pengetahuan yang telah ada, tetapi juga harus sesuai dengan kenyataan yang ada. Hal yang demikian ini tak ubahnya dengan kebenaran sejati  Al Qur’an dimana kebenaran teoritisnya (ayat kauliah) sekaligus merupakan kebenaran empiris (ayat kauniah). Kebenaran sejati inilah yang juga menjadi tujuan ilmu pengetahuan, sebab tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menjelaskan sesuatu sebagaimana adanya.

Untuk mencapai kebenaran sejati tersebut, maka di dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal adanya Metoda Keilmuan yang pada dasarnya merupakan penggabungan antara rasionalisme dengan empirisme.  Dengan adanya Metoda Keilmuan, maka antara gagasan atau buah pikiran dengan ilmu pengetahuan menjadi dapat dibedakan. Dengan demikian hakekat keilmuan ditentukan oleh dilakukannya cara berfikir yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan suatu keilmuan. Hal ini diungkapkan agar kita menjadi sadar sehingga tidak menempatkan ilmu pengetahuan pada struktur feodalisme terselubung yang akhirnya hanya akan menghasilkan fanatisme terhadap faham individu ataupun kelompok.

Proses yang sama sebenarnya juga terjadi pada penyusunan Al Qur’an, sebab proses turunnya setiap wahyu juga berdasarkan atas fakta-fakta kehidupan yang faktual pada masanya. Oleh sebab itu dikenal adanya 2 macam ayat, yaitu ayat kauniah atau fakta-fakta yang ada di realitas yang merupakan penyebab dari turunnya wahyu, sedangkan yang satunya lagi adalah ayat kauliah yang merupakan wahyu yang kemudian ditulis sehingga bentuknya menjadi tulisan atau. Kajian terhadap ayat kauniah akan menghasilkan kebenaran empiris, sedangkan kajian terhadap ayat kauliah akan menghasilkan kebenaran rasional yang subyektif. Untuk mencapai kebenaran yang hakiki atau kebenaran sejati, maka untuk mengetahui salah atau benarnya, maka kebenaran rasional yang subyektif tersebut terlebih dahulu harus diuji dengan kebenaran empiris yang ada di realitas.

Dari QS. Al A’raaf: 52, seperti yang telah disebutkan di atas,  kalimat yang menyatakan Kami jelaskan atas dasar-dasar ilmu pengetahuan dari Kami sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dapat diintepretasikan bahwa cara penyusunan Al Qur’an sudah sesuai dengan dasar-dasar penyusunan karya imiah masa kini. Pola penyusunannya tersebut merupakan petunjuk untuk menggali keilmuan atau rahmat yang berguna di dalam kehidupan kita sehari-hari. Sedangkan kata-kata ilmu pengetahuan dari Kami mengisyaratkan adanya perbedaan yang menyangkut masalah kelengkapan antara ilmu pengetahuan agama dengan ilmu pengetahuan masa kini yang dikembangkan oleh orang-orang Barat. Menurut Einstein, ilmu pengetahuan itu berawal dari fakta dan berakhir dengan fakta, apapun teori yang disusun di antaranya. Dengan demikian obyek yang menjadi kajian ilmu pengetahuan adalah fakta-fakta. Mengenai fakta yang dijadikan obyek kajian, ilmu pengetahuan barat membatasinya sebatas materi yang bersifat fisikal, sedangkan hal-hal atau materi yang bersifat gaib tidak dimasukkan sebagai obyek kajian, dengan alasan sulit melakukan ferifikasi terhadap validitas dan kebenarannya. Lain halnya dengan kajian ilmu agama, materi yang bersifat gaib tetap di anggap sebagai fakta sebab rujukannya adalah Kitab Suci, oleh karena itu obyek kajiannya sebenarnya lebih lengkap.

Pernyataan bahwa penjelasan atau penyusunan Al Qur’an telah menggunakan dasar-dasar pengetahuan atau metode keilmuan, merupakan penjelasan secara tidak langsung bahwa susunan surat-surat maupun ayat-ayat di dalam surat, sudah menggunakan sistimatika dan metode keilmuan. Sistim berasal dari bahasa Yunani, yaitu systema yang berarti keseluruhan yang bulat dan utuh. Dengan demikian kata sistim pada dasarnya dapat dijelaskan sebagai suatu kegiatan atau proses yang bersifat integratif dan transformatif dari seluruh komponen-komponen yang ada di dalamnya. Dikatakan integratif karena proses tersebut bersifat menyeluruh karena melibatkan seluruh komponen yang ada yang fungsinya berbeda-beda satu sama lain. Disebut transformatif karena dari proses yang melibatkan seluruh komponen-komponen yang tersebut kemudian menghasilkan sesuatu yang baru. Dengan demikian, suatu sistim mempunyai pengertian yang jauh berbeda dengan kumpulan, sebab kumpulan tidak menghasilkan sesuatu yang baru. Artinya adalah bahwa Al Qur’an bukan sekedar merupakan kumpulan surat-surat dan ayat-ayat, yang kemudian dikumpulkan menjadi satu. Tetapi lebih daripada itu, semua komponen-komponennya tersebut satu sama lainnya saling berinteraksi atau berhubungan sehingga mejadi satu kesatuan informasi yang utuh.

Tidak ada bedanya dengan sistem-sistem lain pada umumnya, Al Qur’an sebagai suatu sistim informasi juga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut,
Pertama, setiap sistim selalu mempunyaitujuan. Ciri utama dari suatu sistim adalah selalu berorientasi kepada tujuan, sehingga setiap proses yang terjadi di dalamnya juga selalu mempunyai tujuan. Sedangkan apa yang dikatakan sebagai tujuan pada dasarnya merupakan realisasi dari keinginan atau kehendak yang terukur dan oleh karena itu dapat dijelaskan dan dipahami. Tujuan sistimasasi Al Qur’an adalah supaya manusia dapat mengetahui apa kehendak Tuhan terhadap dirinya dalam posisinya sebagai salah satu komponen alam semesta.
Allah menciptakan Alam Semesta ini dengan tujuan yang nyata, justru itu setiap orang akan menerima ganjaran menurut usahanya, sedang mereka tidak teraniaya.

(QS. Al Jatsiyah: 22)
Catatan: lihat juga QS. 46 Al Ahqaaf: 3 ; QS.48 At Taghabun: 3.
Untuk merealisasikan tujuan-Nya tersebut, Tuhan telah merencanakan posisi dan fungsi setiap manusia di dalam tatanan alam semesta, yaitu sebagai Khalifah yang mempunyai hak dan kewajiban untuk mengelola dan melestarikan alam yang berfungsi sebagai penunjang kehidupannya.
Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: ”Sesungguhnya Aku Akan mengangkat Adam menjadi khalifah di muka bumi. Para malaikat bertanya: ”Mengapa Engkau hendak menempatkan di permukaan bumi orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami senantiasa bertasbih memuji dan menyucikan-Mu?” Allah kemudian berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui”.
(QS. Al Baqarah: 29)

Merupakan suatu keniscayaan, seorang pemimpin mampu melaksanakan fungsi kepemimpinannya dengan baik dan benar tanpa memiliki ilmu pengetahuan. Dengan demikian, tujuan sistimasasi Al Qur’an adalah menjadikannya sebagai sistim pengetahuan yang dapat membantu setiap manusia di dalam merealisasikan fungsi kekhalifahannya secara tepat.

Kedua, sistim itu mempunyaibatas. Manusia adalah salah satu subsistim dari sistim besar yaitu sistim kosmik. Disebabkan oleh keadaan dirinya yang demikian tadi, yaitu sebagai salah satu komponen dari sistim kosmik yang merupakan sistim besarnya, maka sistim karya manusia mempunyai jarak (batas) dengan lingkungannya yang merupakan sistim besarnya. Al Qur’an sebagai Kitab Besar (alam semesta) adalah sebuah sistim besar yang merupakan salah satu bagian dari sistimyang jauh lebih besar lagi, yaitu Tuhan. Oleh sebab itu Tuhan itu ada di dalam diri setiap ciptaan-Nya, tetapi sekaligus juga mencakup, meliputi dan mengatasi keseluruhan ciptaan-Nya tersebut, seperti yang disebutkan oleh ayat berikut ini.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadinya.
(QS. Qaaf: 16).

Sebagai suatu sistim pengetahuan yang obyek kajiannya meliputi seluruh ciptaan Tuhan, dengan sendirinya Al Qur’an sebagai subsistim dari Pencipta-nya yang merupakan sistim besarnya, maka Al Qur’an tidak mampu menjelaskan tentang diri Tuhan sebagai Sistim Yang Maha Besar tersebut. Sebab suatu karya pada dasarnya merupakan gambaran yang tidak sempurna dari penciptanya, oleh sebab itu suatu karya tidak dapat menjelaskan secara menyeluruh tentang diri penciptanya. Demikian juga halnya dengan Al Qur’an, sebagai suatu sistim pengetahuan maka  batasnya adalah lingkungan besar yang meliputi dirinya dan oleh karena itu tidak dapat dijelaskannya, yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta.

Ketiga, setiap sistim pada dasarnyabersifatterbuka, dia bersifat responsif terhadap adanya stimulasi yang disebabkan karena adanya interaksi dengan lingkungan. Karena berasal dari penjelasan Tuhan, maka ayat-ayat kauliah maupun susunannya bersifat konstan, tidak berubah-ubah atau dengan kata lain sudah dibakukan. Pada pihak lain, ayat-ayat kauiniah bersifat dinamis, berubah-ubah terus sesuai dengan kebutuhan hidup manusianya, namun selalu cenderung kembali ke kodratnya dia yang secara total tunduk dan patuh terhadap hukum alam (sunatullah). Adanya kondisi yang demikian ini, maka kajian terhadap Al Qur’an seharusnya juga bersifat dinamis sehingga tetap bersifat responsible terhadap realitas yang dinamis tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, Tuhan sendiri melalui beberapa ayatnya menganjurkan bahwa hendaknya manusia  tidak bersikap menutup diri terhadap dinamika yang terjadi di realitas. Anjuran yang demikian tadi lain ditunjukkan oleh ayat berikut ini,
Dan bila dikatakan kepada mereka:” Ikutilah peraturan-peraturan yang telah diturunkan Allah!” Mereka menjawab: Tidak! Kami hanya mau mengikuti apa-apa kebiasaan yang telah kami dapati dari nenek moyang kami. ”Apakah akan diikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun juga, dan tidak pula mendapat petunjuk Tuhan?”
(QS. Al Baqarah: 170)

Catatan: anjuran yang demikian juga dapat dilihat pada QS. Al Baqarah: 171; QS. Al Ma’idah: 104 serta QS. Luqman: 21.

Keempat, terdiri atas beberapasubsistim dan setiap subsistim terdiri atas subsistim yang lebih kecil lagi. Contohnya sebagai berikut, apabila Al Qur’an adalah sistim utamanya, maka surat merupakan  subsistimnya dengan ayat-ayat sebagai komponen  penyusunnya. Padahal ayat atau kalimat merupakan sistim dari sejumlah kata-kata dan kata merupakan sistim dari huruf-huruf. Dengan demikian ayat merupakan subsistim yang lebih kecil lagi dengan komponen penyusunnya adalah kata, sedangkan kata juga merupakan subsistim dengan huruf sebagai komponen penyusunnya.

Kelima, terdiri atas komponen yang berbeda-beda. Al Qur’an terdiri atas 10 subsistim yang satu sama lain berbeda. Komponen-komponen atau subsistim tersebut secara faktual dapat disebutkan sebagai berikut, Al Juz, Surat, Ayat, Kata, Huruf, Angka, Halaman, Baris, Tanda Ruku’ dan  Tanda Baca. Dari 114 surat yang ada, setiap surat, mempunyai judul dan posisinya masing-masing.  Posisi surat ditunjukkan oleh Nomor Surat, sedangkan Judul Surat menjelaskan tentang fungsinya. Dengan demikian tidak ada satupun surat yang mempunyai fungsi yang sama, sebab posisi maupun judulnya  selalu berbeda dengan surat lainnya. Lain halnya dengan ayat yang secara tekstual sama dan jumlahnya cukup banyak.

Posisi ayat-ayat yang sama tersebut ada yang tersebar pada beberapa surat yang berbeda, tetapi juga ada yang secara bersamaan berada dalam satu surat. Yang posisinya berada pada surat yang berbeda sudah jelas mempunyai fungsi yang berbeda pula, yaitu sesuai dengan judul surat dimana ayat-ayat tersebut berada. Sedangkan yang berada dalam surat yang sama, perbedaan fungsi tersebut ditunjukkan oleh posisi masing-masing ayat di dalam surat yang bersangkutan. Sebab di dalam suatu sistim/struktur, perbedaan posisi menjelaskan adanya perbedaan fungsi.
Keenam, setiap komponennya saling berhubungan dan saling melengkapi. Suatu sistim merupakan organisasi dari seluruh komponen yang ada di dalamnya. Terdapatnya sifat saling berhubungan yang ada pada setiap komponennya menunjukkan adanya interaksi internal, sedangkan hubungan yang bersifat saling melengkapi menunjukkan adanya sifat interdependensi atau saling ketergantungan antara suatu komponen terhadap komponen-komponen lainnya. Dengan terjadinya hubungan yang demikian maka output yang dihasilkan suatu komponen dapat menjadi input bagi komponen lainnya. Selain itu, sifat hubungan yang demikian itu sekaligus menjelaskan bahwa di dalam suatu sistim tidak ada fenomena kejadian tunggal, semua kejadian bersifat kausalitas atau sebab akibat.
Sebagai contoh, fungsi surat Al Fathihah di dalam Al Qur’an ditunjukkan oleh judulnya, yang artinya Pembukaan.  Di dalam buku, Pembukaan atau Kata Pembukaan sering disebut sebagai Kata Pendahuluan. Di dalam Hadis Qudsi dijelaskan bahwa Al Fathihah itu terdiri dari 7 ayat, 3 ayat yang pertama (ayat ke 1 Alhamdu lillaahi rabbil ’aalamin, ayat ke 2 Ar rahmaanir-rahiim dan ayat ke 3 Maaliki yaumid-diin) karena merupakan puji-pujian maka dikatakan untuk Tuhan atau hablum min Allah (bener nggak tulisane?), sedangkan 3 ayat terakhir (ayat ke 5 Ihdinash shiraathal mustaqiim, ayat ke 6 Shraathal-ladziina an’amta ’alaihim dan ayat ke 7 Ghairil maghdhuubi ’alaihim waladh dhaal-liin) karena berisi permohonan maka dikatakan untuk manusia atau hablum minannas. Sedangkan yang ditengah-tengah, yaitu ayat ke 4 (Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin), merupakan gabungan dari ke duanya (hablum min Allah dan hablum minannas). Hubungan dengan Tuhan berkaitan dengan masalah keimanan dan hubungan antar manusia berkaitan dengan masalah keamalan. Ayat ke 4 menunjukkan bahwa amal dan iman tak ubahnya seperti mata uang dengan dua sisinya, bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan, karena keduanya merupakan satu kesatuan yang utuh, karena amal pada dasarnya merupakan  implementasi dari iman.

Fungsi Kata Pendahuluan di dalam sebuah buku adalah untuk menjelaskan pokok-pokok atau garis besar dari seluruh isi buku. Apabila isi dari Kata Pendahuluannya saling berhubungan dan saling melengkapi, maka hal yang sama juga terjadi pada isi kitabnya. Padahal isi kitab adalah ilmu pengetahuan, dan dari ilmu pengetahuan tersebut terbentuklah keimanan seseorang.

Dengan kata lain, di dalam setiap kegiatan hidup yang kita lakukan seharusnya antara ilmu pengetahuan, keimanan dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh. konsisten dengan keimanan kita, dengan demikian maka kehidupan kita sehari-hari merupakan realita dari ibadah kita. Namun hal yang demikian tersebut, secara jelas dan gamblang tidak akan didapatkan kalau kita mempelajarinya (Al Qur’an) secara sepotong-sepotong, tetapi harus secara menyeluruh atau holistik dengan mengikut sertakan seluruh komponen yang ada di dalamnya.

iseng iseng copas ini

Sumber: http://kilometer2.wordpress.com

Mahasiswa Sistem Informasi Tingkat Akhir

Salah satu jurusan yang cukup menguras jiwa dan raga..

Menghabiskan waktu kurang lebih 40 jam/ minggu untuk belajar di kampus. Dan hanya memanfaatkan 2- 3.5 jam/hari untuk tidur malam. Belum termasuk pengerjaan tugas, pembuatan laporan, dll. Mempelajari perancangan sistem, design, database, interface, dan aplikasi. Merancang dan mendesain struktur, source code, metode pengerjaan, perencanaan, sampai ke perkiraan biaya suatu proyek.

Menghitung dan menganalisa kelebihan dan kekurangan sistem, kedalaman data informasi dan transaksi, mengatur mobilisasi dan demobilisasi data dan informasi, keamanan suatu sistem, serta penjadwalan suatu proyek. Cukup rumit, sampai tadinya aku berpikir : "Kenapa Aku mau melakukan semua ini..?"

Namun setelah aku merenung dan berpikir lebih dalam, Aku baru sadar dan menemukan jawabannya. Aku melakukan itu semua untuk "menuntut ilmu" agar bisa memerangi kebodohan. Karena Allah tidak suka dengan orang-orang bodoh, sehingga Ia berjanji akan menaikkan derajat orang-orang beriman, yang berilmu.

Yakinlah, jika semuanya dilaksanakan dengan ikhlas, penuh rasa syukur, dan dengan mengharap ridho Allah Ta'ala, tak ada yang sulit di dunia ini..
Percayalah,,
Tak ada tempat untuk rasa takut...
Tak ada tempat untuk rasa lemah...
dan tak ada waktu untuk berputus asa...

"Hidup memang diibaratkan seperti mengupas bawang. Saat Kita berusaha mengulitinya untuk mendapat bagian yang  terbaik, kadang kita mengeluarkan air mata". Itulah perjuangan yang akan Kita lalui. so bersabarlah untuk semua ini.....................


[refleksi kehidupan]

Sunday, September 9, 2012

Sistem Informasi Manajemen Pelaporan dan Pengendalian Daerah

Sistem Informasi Monitoring dan Evaluasi atau dikenal sebagai Sistem Informasi Manajemen Pengendalian Pembangunan merupakan aplikasi perangkat lunak yang digunakan oleh Pemerintah Daerah untuk proses pembuatan laporan pembangunan (dokumen monitoring) yang biasa dilaksanakan oleh Bappeda.

Dasar Hukum
  1. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ;
  2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah ;
  3. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan ;
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
  5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
Fitur Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Pengendalian Pembangunan ini adalah:
  1. Mengakomodir proses Pengendalian Kegiatan APBD dengan struktur sesuai dengan Permendagri No. 13 tahun 2006 serta Permendagri No. 59 tahun 2007 dan mengimplementasikan PP No 39 tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan serta PP No 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah serta Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
  2. Mengakomodir proses data realisasi fisik dan keuangan per rekening belanja serta menyimpan informasi data-data pekerjaan yang dikontrakkan beserta informasi rekanan pelaksananya.
  3. Menampilkan laporan-laporan realisasi belanja, kegiatan beserta rekapitulasi penyerapan anggaran serta realisasi fisik pekerjaan-pekerjaan berdasarkan belanja dan kegiatan yang ada di DPA SKPD.
  4. Dalam kaitannya dengan Tupoksi Bappeda, aplikasi SI Pengendalian merupakan aplikasi guna proses pelaporan progress pembangunan yang data-data kemajuan pembangunan tersebut dihimpun dari seluruh SKPD pada Pemda setempat.
  5. Terintergasi dengan sistem Online guna monitoring Eksekutif.
Teknologi Sistem Informasi Manajemen Pengendalian Pembangunan:

  1. Teknologi Multiuser , yaitu memungkinkan aplikasi dapat bekerja untuk banyak pengguna dengan kewenangan yang telah ditentukan oleh Administrator dan bekerja pada satu basis data yang sama ( collaboration ).
  2. Teknologi Client-Server, yaitu aplikasi dapat dijalankan dari Client dengan Sistem Basis Data berada pada komputer Server. Hal ini dimaksudkan apabila sistem dijalankan pada banyak pengguna yang bekerja bersama pada satu basis data.
  3. Sistem Aplikasi Berbasis Desktop sehingga mendukung fleksibilitas penggunaan tidak tergantung konektivitas internet maupun jaringan.
  4. Sinkronisasi Online dan Offline bila tidak ada jaringan komunikasi LAN maupun internet. Sehingga walaupun pengerjaan proses data tidak terhubung, data dari masing-masing PC dapat disatukan melalui jaringan internet.
  5. Laporan-laporan yang dihasilkan menggunakan teknologi FastReport memungkinkan konversi laporan ke bentuk .DOC, .XLS, .HTML, .PDF, .JPG dan lain-lain.
Sumber: portal.simda.net

Sistem Informasi Manajemen Perencanaan Pembangunan Daerah

Komputerisasi manajemen pemerintahan bertujuan untuk meningkatkan efiensi kerja dan memudahkan pimpinan dalam mengontrol perkerjaan. Kontrol langsung dari atasan akan dapat meningkatkan efisiensi kerja dan juga dapat meningkatkan etos kerja pegawai karena merasa diperhatikan oleh atasannya.

Dalam keterkaitannya dengan tugas Bappeda sebagai aparatur perencana pembangunan, diperlukan suatu sistem informasi yang mengimplementasikan proses perencanaan sehingga mampu mendorong peningkatan kinerja, memberikan kemudahan pada perencanaan dan konsolidasi data serta memudahkan konsistensi pengelolaan data perencanaan dan anggaran. Hal ini merupakan kaitan antara penggunaan sistem informasi dengan proses manajemen perencanaan daerah.

Melalui perangkat lunak ini diharapkan tersedia Sistem Informasi Manajemen Perencanaan Pembangunan DAerah, atau juga disebut sebagai Sistem Informasi Rencana Kerja (SIRENJA) yang dapat dioperasikan oleh segenap aparatur di Bappeda dan SKPD lain, terkait dengan proses perencanaan pembangunan.
Fitur Aplikasi yang ada pada Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan (SIRENJA – Sistem Informasi Rencana Kerja) ini adalah:
  1. Mengakomodir proses Perencanaan Keuangan Daerah sesuai dengan Permendagri No. 13 tahun 2006 serta Permendagri No. 59 tahun 2007.
  2. Proses RKPD meliputi setting dan penyesuaian dengan prioritas pembangunan daerah, matriks RKPD, Renja Awal dan pencetakan laporan RKPD sesuai kriteria.
  3. Proses Musren Kecamatan, meliputi pemasukan daftar usulan kegiatan kecamatan, kompilasi dan pencetakan draft dan Formulir C-2.
  4. Proses Forum SKPD, meliputi pemasukan daftar usulan kegiatan tiap SKPD, kompilasi dan pencetakan draft dan Formulir B-3 serta pencetakan Renja Awal SKPD.
  5. Proses Musren Kabupaten, meliputi kompilasi data dari usulan Musren Kecamatan, Forum SKPD serta usulan-usulan kegiatan yang muncul pada waktu Musren Kabupaten ini. Output proses ini adalah Formulir C-3.
  6. Proses Pasca Musren Kabupaten, yaitu proses Finalisasi Renja SKPD, Finalisasi RKPD, Pencetakan KUA, serta penyesuaian format sesuai SE Mendagri No. 751 tahun 2009 untuk penyusunan perencanaan pembangunan tahun 2010.
  7. Mengakomodir proses perencanaan sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
  8. Finaliasi proses-proses tersebut menghasilkan cetakan PPAS.
 Sumber: portal.simda.net

Proses Berpikir Strategis

Ada lima kriteria berbesar yang seharusnya menjadi fokus pengembangan visi yang strategis bagi bisnis,. Lima kriteria ini akan membantu Anda mendefinisikan apa yang ideal bagi bisnis Anda ke depan. Sebagai tambahan, kelima kriteria tersebut akan men-set dan mengembangkan langkah-langkah penting untuk membuat visi bisnis Anda menjadi nyata.

Berikut ini adalah daftar lima kriteria proses berpikir strategis:

1.      Organisasi. Organisasi bisnis Anda melibatkan orang-orang yang akan bekerja untuk Anda, struktur organisasi bisnis Anda, dan sumber daya penting untuk membuat semuanya bekerja. Akan seperti apa organisasi Anda? Struktur organisasi akan bertipe apa untuk mendukung visi Anda? Bagaimana Anda akan menggabungkan orang-orang, sumber daya dan struktur bersama-sama mencapai hasil ideal?

2.     Observasi. Ketika Anda melihat ke bawah bumi dari sebuah pesawat, Anda dapat melihat lebih banyak ketimbang ketika berada di darat. Berpikir strategis banyak kesamaan dengan hal tersebut, mengijinkan Anda untuk melihat sesuatu dari yang lebih tinggi. Dengan meningkatkan kekuatan observasi, Anda akan memulai menjadi lebih sadar apa yang dapat memotivasi orang-orang, bagaimana memecahkan masalah secara lebih efektif, dan bagaimana membedakan diantara alternatif pilihan.

3.      Pandangan. Dengan arti lain merupakan jalan sederhana berpikir tentang sesuatu. Dalam berpikir strategis, terdapat empat poin untuk mengambil perhatian ketika membentuk strategi bisnis Anda, yaitu pandangan tentang lingkungan, pandangan tentang pasar, pandangan tentang proyek, dan pandangan tentang ukuran. Pandangan dapat digunakan sebagai alat untuk membantu Anda berpikir tentang hasil, alat identifikasi penting  dan menyesuaikan aksi Anda untuk mencapai posisi ideal Anda.

4. Kekuatan mengendarai. Apakah kekuatan mengendarai yang akan membuat hasil ideal Anda menjadi kenyataan? Apa visi dan misi usaha Anda? Kekuatan mengendarai biasanya meletakkan dasar untuk apa Anda ingin orang-orang fokus pada bisnis Anda (contohnya, apa yang akan Anda gunakan untuk memotivasi orang lain agar melaksanakan). Contoh kekuatan mengendarai termasuk juga di dalamnya insentif bagi individu dan organisasi, kekuasaan dan kesejajaran, faktor kualitatif seperti mendefinisikan visi, nilai, dan tujuan, faktor produktif seperti misi dan fungsi, faktor kuantitatif seperti hasil atau pengalaman, dan lainnya seperti komitmen, aksi yang sama, efektifitas, produktivitas, dan nilai.

5.      Posisi ideal. Setelah bekerja melalui empat fase pertama proses berpikir di atas, Anda seharusnya mampu mendefinisikan posisi ideal Anda. Outline posisi ideal seharusnya melingkupi; kondisi di mana Anda telah menemukan  menjadi penting jika bisnis menjadi produktif, ceruk pasar yang akan diisi bisnis Anda, berbagai peluang yang ada lainnya saat ini atau ke depan bagi bisnis Anda, kompetensi inti atau keahlian yang dibutuhkan bisnis, dan strategi serta taktik yang akan membanti mendorong semuanya bersama-sama.
Dengan bekerja melalui lima wilayah tersebut, Anda akan mulai mendapatkan gambaran yang clear dari bagaimana visi bisnis dapat di kerjakan secara nyata. Sebagaimana visi Anda menjadi lebih fokus, ide Anda akan menunjukkan lebih kuat dan dapat dipercaya. Tak hanya akan lebih mudah untuk meyakinkan yang lain bahwa ide Anda adalah sesuatu yang bagus, tetapi juga akan lebih mudah menjaga keyakinan dan motivasi ketika Anda meraih perangkap dan rintangan di jalan

Secara keseluruhan Anda dapat mengaplikasikan keahlian berpikir strategis dalam kehidupan. Tetapi dengan membuat sebuah rencana usaha untuk menerapkan mereka secara khusus pada usaha, Anda akan memiliki kesempatan banyak lebih baik yang membawa visi hidup Anda. Dan ini kan yang Anda inginkan?

Sumber:

Berpikir Strategis dalam Meramalkan Pertumbuhan Bisnis, wirausaha.netThe U.S. Small Business Administration (SBA), http://www.sba.gov

Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA)

SIMDA (Sistem Informasi Manajemen Daerah)
Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan otonomi daerah, pengelolaan keuangan daerah perlu diselenggarakan secara profesional, terbuka dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam undang-undang.
Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara mewajibkan pemerintah daerah dan satuan kerja perangkat daerah selaku pengguna anggaran untuk menyusun laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan keuangan.

Laporan keuangan yang harus disajikan oleh pemerintah daerah menurut undang-undang dan Draft Standar Akuntansi Pemerintahan adalah neraca, laporan realisasi anggaran, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Untuk itu pemerintah daerah memerlukan sistem informasi akuntansi keuangan yang dapat memberikan informasi keuangan secara lebih komprehensif .

Kegiatan:
* Survei dan koordinasï Analisa Data
* Proses Disain Sistem
* Pengembangan Sistem(pemrograman dan testing)
* Pengadaan Peralatan.

Implementasi sistem:
* Penyerahan aplikasi dan
* Pengadaan peralatan
* Mengadakan pelatihan
* Mengadakan evaluasi pemakaian aplikasi SIMDA

Beberapa Modul SIMDA adalah:
* SIMDUK (Sistem Informasi Manajemen Kependudukan)
* SIMPOTDA (Sistem Informasi Manajemen Potensi Daerah)
* SIMARSIP (Sistem Informasi Kearsipan Daerah)
* SIMONJAR (Sistem Informasi Monitoring Jaringan)
* SIMPEG (Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian)
* SIMNAKER (Sistem Informasi Ketenaga Kerjaan)
* SIMBADA (Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah)
* SIMSAT ONLINE (Sistem Informasi Manajemen Manunggal Satu Atap)
* SIMYANDU (Sistem Informasi Pelayanan Terpadu)
* SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan)
* SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit)
* SIMKES (Sistem Informasi Manajemen Kesehatan)
* SISFOHUKUM (Sistem Informasi Produk Hukum)
* SISFOLITBANG (Sistem Informasi Penelitian dan Pengembangan)
* Sistem Informasi Anggaran Pendapatan & Belanja Daerah (SISFO-APBD)
* SISTADIK (Sistem Informasi Statistika Pendidikan)
* SISTER (Sistem Informasi Sekolah Terpadu)
* SISFODIKJAR (Sistem Informasi Pendidikan & Pengajaran)
* SINERAL (Sistem Informasi Energi & Mineral)
* SIPPER (Sistem Informasi Pertanian dan Peternakan)
* SISINDAGKOP (Sistem Informasi Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi)
* SIPMD (Sistem Informasi Penanaman Modal Daerah)
* SIBUDPAR (Sistem Informasi Kebudayaan dan Pariwisata)
* SITENLIH (Sistem Informasi Potensi Lingkungan Hidup)
* SIGUNAHAN (Sistem Informasi Geografis Penggunaan Lahan)
* SIMNAHAN (Sistem Informasi Manajemen Penggunaan Lahan)
* SIKIMPRASWIL (Sistem Informasi Pemukiman dan Prasarana Wilayah)
* SIPU (Sistem Informasi Pekerjaan Umum)
* SIPEDAL (Sistem Informasi Pengendalian Dampak Lingkungan)
* SIKUMDANG (Sistem Informasi Hukum & Perundang-undangan)
* SIMADA (Sistem Informasi Asset Daerah/ GIS/ Spatial)
* SIMBADA (Sistem Informasi Manajemen Barang Daerah)
* SIMPATDA (Sistem Informasi Pendapatan Daerah)
* SIKASDA (Sistem Informasi Kas Daerah)
* SISTAPOTWIL (Sistem Informasi Statistik Potensi Wilayah)
* SISDIKLAT (Sistem Informasi Pendidikan & Latihan Pegawai)
* SIMPEL (Sistem Informasi Manajemen Pelaporan Pelaksanaan Pemerintahan dan Pembangunan Pemerintah Daerah)
* SIMONEVPRO (Sistem Informasi Monitoring & Evaluasi Proyek)
* SIHUB (Sistem Informasi Perhubungan)
* SAMSAT Online (Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap Online)

Sumber: javawebmaster.com

Sunday, December 11, 2011

Perencanaan TI Merupakan Investasi Jangka Panjang




     Kerjasama BNI-Alfabet-Multipolar


Jakarta
- Perusahaan yang lebih siap dalam merencanakan investasi teknologi informasi (TI) tentu akan lebih siap bersaing dan terhindar dari risiko biaya tinggi, semisal duplikasi sistem.

"IT Planning itu investasi jangka panjang bagi perusahaan," kata Susi Marlon, Dept Head Principal Relations & Marketing PT Multipolar Technology, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (10/12/2011).

Nah, perencanaan TI yang terukur dengan dukungan informasi yang terpusat, terkadang tak bisa dilakukan sendiri. Contohnya saja PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

"BNI menggunakan solusi planningIT dari Alfabet, dan Multipolar yang mengimplementasikan. Kita yang manage project-nya dan juga menyediakan engineer untuk technical support pada waktu implementasi," kata Susi.

Adopsi solusi planningIT ini ditujukan untuk membantu BNI dalam menyajikan transparansi informasi dari aset TI di BNI guna mendukung inisiatif transformasi bisnisnya.

"BNI memiliki aset TI yang besar dengan arsitektur TI-nya yang kompleks," tutur Henrisa Lubis, Chief Technology Officer dari BNI.

Dalam menjalankan proses bisnis dan berbagai insiatif transformasi bisnisnya, BNI menghadapi berbagai tantangan dengan arsitektur TI-nya yang kompleks dan aset TI yang besar.

Mulai dari menangani life cycle dari masing-masing aset TI, menjalankan integrasi dan kolaborasi diantara stakeholder dalam perencanaan investasi TI, hingga proses perencanaan dan analisis yang terpencar-pencar.

"Belum lagi, masalah proses perencanaan dan analisa yang semuanya masih dilakukan secara silo," tukas Henrisa lebih lanjut. BNI pun memilih solusi planningIT dari Alfabet untuk menjawab tantangan tersebut.

"Dengan solusi planningIT, sekarang kami bisa dengan mudah dan transparan melihat semua portofolio TI kami, serta hubungan keterkaitan antara satu dengan yang lainnya, sehingga memudahkan dalam merencanakan investasi TI dan melihat future-state arsitekturnya yang diselaraskan dengan strategi bisnis," ujar Henrisa.

Selain memperoleh transparansi dari IT landscape, dengan memanfaatkan solusi tersebut kini semua stakeholder BNI baik dari sisi bisnis maupun TI dapat menggunakan bahasa yang sama.

"Dengan sumber penyimpanan informasi dari planningIT, kini kami memiliki 'single source of truth' mengenai kondisi dari IT landscape di BNI. Laporan ini dapat dilihat oleh masing-masing stakeholder, dengan tampilan dashboard yang berbeda-beda yang dapat disesuaikan dengan pembagian peran atau kebutuhannya," tandas Henrisa.

sumber: http://www.detikinet.com

Tuesday, September 20, 2011

Poject Karang Taruna di BSM Care

  Tentang BSM Care
Anda ingin beramal dan perlu dana? Realisasikan niat baik Anda bersama BSM.
Sahabat BSM, segera usulkan niat baik Anda untuk membuat proyek amal. BSM siap menghibahkan dana maksimal Rp50 juta untuk aksi amal Anda. Aksi amal ini haruslah salah satu dari tiga jenis kategori, yaitu: Pendidikan, Lingkungan, dan Sosial. Bila usulan Anda memenuhi syarat dan ketentuan yang kami tetapkan serta mendapatkan dukungan tertinggi dari masyarakat, kami akan penuhi usulan Anda. Dukungan masyarakat tertinggi kami tunjukkan di halaman “Top 10”. Dukungan masyarakat dapat Anda dapatkan dengan Empat Cara yaitu mengajak orang lain untuk masuk ke halaman usulan Anda dan minta mereka untuk:
  1. Cara 1, menautkan usulan ke twitter;
  2. Cara 2, mengklik tombol Facebook Like;
  3. Cara 3, meng-klik tombil bertanda jempol;
  4. Cara 4, memberikan komentar positif, bila perlu.
Masing-masing cara tersebut memiliki bobot berbeda. Cara 1 memiliki bobot tertinggi, diikuti Cara 2, Cara 3, dan Cara 4. Sebagai informasi, Cara 4 memiliki bobot yang sangat kecil. Nilai akhir adalah kombinasi dari ke-empat cara tersebut.

BSM Care periode September – Oktober 2011
Jadilah pemberi usulan terbaik untuk periode ini. Usulan terbaik yang akan jadi pemenang adalah usulan yang:
  1. memenuhi syarat dan ketentuan.
  2. memiliki dukungan masyarakat tertinggi.
Usulan dengan dukungan tertinggi dari masyarakat akan kami verifikasi. Bila usulan tersebut memenuhi syarat dan ketentuan, akan jadi pemenang. Bila tidak, kami akan lihat usulan berikutnya. Begitu seterusnya.
Pemenang akan kami umumkan pada minggu pertama November 2011 melalui: www.syariahmandiri.co.id

Tips
Untuk bisa menduduki usulan dengan nilai akhir tertinggi, para Sahabat BSM dapat mencoba tips berikut ini:
  1. Usulkan kegiatan amal (pendidikan, sosial, atau lingkungan) yang betul-betul dibutuhkan di lingkungan Anda dan berdampak besar bagi masyarakat sekitar.
  2. Hindari diskualifikasi dengan menjunjung tinggi validitas data kebenaran usulan, usulan itu benar-benar kegiatan amal, secara teknis dapat dilakukan, dll. Sekali lagi, lihat syarat dan ketentuan kami.
  3. Ajak kenalan Anda untuk:
    • Masuk ke halaman usulan Anda. Disarankan Anda meng-copy web address yang ada di bagian atas peramban (browser) yang Anda gunakan.
    • Bagikan web-address usulan Anda melalui berbagai cara, bisa melalui SMS, Instant Messaging, milis, berbagai media sosial, dan lain-lain. Bahkan bila Anda punya website, Anda dapat menempatkan banner yang ditautkan ke usulan Anda tersebut.
    • Ajak kenalan Anda tersebut untuk mendukung usulan Anda dengan mengikuti Empat Cara di atas.
  4. Pantau terus perkembangannya dengan membandingkan profil usulan Anda dengan usulan yang telah masuk Top 10.
  5. Terus berusaha agar usulan Anda masuk Top 1.
Selamat berjuang!
 
Mohon partisipasi dan dukungannya ya sahabat, dengan membuka link dibawah ini dan di like (facebook) dan di tweet ya.

Pembinaan kegiatan di bidang Keagamaan (kerohanian), Ekonomi, Olahraga, Keorganisasian, Ketrampilan, Kesenian, Teknologi, dan Sistem Informasi bagi masyarakat dan khususnya bagi para pemuda sangatlah dibutuhkan. untuk dapat membentuk pola pembangunan masyarakat dan sikap mental para pemuda dalam membangun, mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakatnya.
http://www.syariahmandiri.co.id/bsm-care/usulan-anda/sosial/poject-karang-taruna/
 Terimakasih kami ucapkan kepada sahabat-sahabat sekalian yang sekiranya telah membantu dan mensupport project kami.

Mario Teguh's Quotes

Quotes

Blogger Jogja

Traffic Exchange

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

Wibiya provides a web toolbar that enables blogs and websites to integrate the most exciting services and web applications into their blog or website.