Showing posts with label Kegiatan. Show all posts
Showing posts with label Kegiatan. Show all posts
Sunday, December 11, 2011
Gangguan Mental Akibat Internet
Internet telah membuat banyak orang menjadi “gila”.Ada orang yang lebih mencintai internet melebihi rasa cinta kepada pasangannya.Ada juga orang yang rela tidak tidur demi chating dan browsing.Ada anak yang lebih memilih internet dari nasi.Dari orang dewasa hingga anak-anak memenuhi warung-warung internet, setiap harinya, karena “kegilaan” terhadap internet.
Ini dia ancaman ke 6 Gangguan mental saat kita sedang online di internet..
1. Gangguan kepribadian berupa emosi yang sebentar-sebentar meledak di saat online – mengamuk karena mudah tersinggung (Online Intermittent Explosive Disorder/OIED)
orang yang mengidap gangguan ini tampak normal pada awalnya. Beberapa hari atau jam sebelumnya mereka bisa saja melakukan pembicaraan-pembicaraan lucu atau komentar-komentar hangat. Akan tetapi beberapa saat kemudian berubah marah-marah dan mengumpat disebabkan sesuatu yang menyinggung perasaannya.
Kenapakah hal itu bisa terjadi di Internet?
* Kebanyakan dari kita hanya bisa menahan hasrat untuk melakukannya di dunia nyata, yang apabila dilakukan mungkin bisa membuahkan sebuah tinju ke wajah kita.
* Di Internet kebanyakan pengguna menyembunyikan identitas aslinya, sehingga mereka dengan bebas mengeluarkan isi hati dan kemarahannya tanpa khawatir reputasinya menjadi jelek.
* Karena pengungkapan perasaan dalam bentuk tulisan sering terlihat datar dan tidak menggambarkan emosi dengan jelas, seperti halnya nada suara, mimik wajah dan bahasa tubuh lainnya di saat tatap muka langsung, sehingga orang cenderung menggunakan kata-kata yang tajam, kasar dan keras untuk mewakili sebuah perasaan tertentu.
2. Toleransi rendah terhadap kekalahan dalam forum (Low Forum Frustration Tolerance/LFFT)
Digambarkan sebagai seseorang yang mencari-cari kepuasan segera atau penghindaran dari rasa sakit dengan segera. Pada awalnya mirip dengan perilaku anak tujuh tahunan yang menginginkan sebuah mainan, dan akan berteriak dengan menghentak-hentakan tangan dan kakinya agar segera mendapatkan apa diinginkannya.
Bagi orang yang suka menulis dan melakukan posting, sering kali merasa bahwa postingnya sangat sempurna. penulisnya hampir setiap waktu mengecek masuknya komentar yang baru diberikan pembacanya. Jika ia mendapat komentar-komentar miring penuh kritik, maka dengan cepat ia akan meluncurkan jawaban yang akan mematahkan tanggapan itu.
Jika tidak ada yang memberikan komentar, dia akan mengirimkan komentarnya sendiri – mungkin dengan nama lain – untuk meramaikan tulisannya.
Kenapakah hal itu bisa terjadi di Internet?
Kegiatan itu membuat kita menjadi tidak sabaran, karena ingin segera melihat respon dengan dari pihak lain. Ketidaksabaran ini meminimalkan toleransi terhadap serangan yang menimbulkan ketersinggungan.
3. Munchausen di Internet – tukang cerita untuk membangkitkan rasa kasihan (Munchausen Syndrom)
suatu kondisi di mana seseorang dengan sengaja membuat kebohongan, menirukan, menambah buruk suatu keadaan, atau mempengaruhi diri sendiri agar sakit dengan tujuan diperlakukan seperti orang sakit.
Kenapa hal itu bisa terjadi di internet?
Sangat mudah melakukan kebohongan dalam kehidupan nyata, dan sepuluh kali lebih mudah melakukannya di internet, karena tidak ada seorang pun bisa memeriksa kebenaran fakta-faktanya
4. Gangguan kepribadian yang tergoda untuk memaksa orang lain pada saat online (Online Obsessive-Compulsive Personality Disorder/OOCPD)
Gangguan kepribadian jenis ini bisa dijelaskan dengan contoh kegilaan akan tata bahasa. Ketika orang menemukan suatu kesalahan tata bahasa atau penulisan kata yang keliru dari orang lain dalam sebuah posting atau komentar, maka dia langsung menyerang dan dengan keras memprotesnya.
Kenapa hal demikian bisa terjadi di internet?
Dalam kenyataannya penderita OCPD merasakan ketakutan yang tidak logis terhadap dunia yang lebih berantakan, lebih kotor dan lebih kacau dibanding seharusnya yang dia pikirkan; sehingga secara cepat keadaan menjadi lebih buruk, dan akan mengalami kehancuran sampai ada seseorang yang memperbaikinya.
Di Internet, setelah membaca setiap komentar-komentar, orang normal akan menderita nasib yang sama. Tata bahasa yang keliru, pilihan kata yang tidak tepat, atau bahasa gaul yang membingungkan, mendesak anda untuk mengoreksinya. Tidak sulit merasakan keinginan untuk melatih diri menggunakan bahasa yang benar
5. Low Cyber Self-Esteem (LCSE) atau penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah (Seperti seseorang yang dibenci setiap orang, tapi tidak ada yang meninggalkannya)
Di dalam kehidupan nyata ini disebut merendahkan diri sendiri atau perilaku pencarian perhatian.
Jika sampai kepada tingkat ekstrem, hal itu dapat berubah menjadi Online Erotic Humiliation atau pelecehan seksual secara online, di mana pelecehan menjadi sebuah tindakan nyata. Sehingga ketika anda mengatakan kepada seseorang agar melakukan sebuah tindakan seksual, mungkin dia akan menganggap hal itu penting dan dia dengan sungguh-sungguh akan melakukannya.
Kenapa hal itu bisa terjadi di Internet?
Pencari perhatian mendapatkan apa yang diinginkannya, dan penghina diri sendiri mendapatkan cukup ketegangan untuk mengaktualisasikan dirinya yang intropet melalui sinyal-sinyal yang dikirimnya via keyboard.
6. Internet Asperger’s Syndrome
hilangnya semua aturan sosial dan empati pada diri seseorang, disebabkan tanpa alasan selain hanya secara kebetulan berhadapan dengan sebuah benda mati; berkomunikasi via papan tombol dan monitor pada suatu waktu.
sindrom ini adalah bentuk halus dari autisme yang tampak berupa ketidakmampuan biologi untuk menunjukkan empati kepada manusia lain, mungkin disebabkan ketidakmampuan untuk mengenali isyarat nonverbal. Mereka secara terus-menerus bertingkah aneh dan mengganggu disebabkan mereka tidak mengetahui bahwa anda terganggu. Ada bagian dari otak mereka yang rusak.
(Beberapa kasus bunuh diri yang direkam dengan webcam – yang sebagian mungkin main-main – dan dipublikasikan di Internet. Untuk sekarang ini mungkin kita tidak yakin bahwa hal itu benar-benar terjadi, tetapi sebenarnya hanya masalah waktu.)
Kenapa hal itu bisa terjadi di Internet?
orang yang melakukan semua komunikasi online mereka menampilkan perilaku Asperger karena mereka ingin memberikan kesan ada kerugian yang sama pada diri sendiri. Di dalam hal ini, ketika kemampuan melihat respon dan mimik wajah atau ekspresi nonverbal sudah hilang, begitu juga dengan empati. Maka hal yang anda beritahukan hanya kepada orang yang tidak ada, karena itu hanyalah sekelompok kata-kata pada layar. Sekelompok kata-kata kecil yang tidak berarti.
Nah,tidak ada larangan untuk berinternet,akan tetapi beriternetlah dengan sehat,jagalah diri kita dan keluarga agar selamat dari sisi negatif internet.
jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh internet,tetapi kitalah yang harus mengendalikannya,dengan mengetahui batasan-batasan dan bertindak sesuai kewajaran dan tidak melebihi batas dalam ber internet.Terima kasih .semoga bermanfaat.
Label:
Akibat Internet,
Download,
Internet,
Kegiatan
Saat Terbaik Berburu Kecepatan Internet
Di era seperti saat ini di mana internet sudah menjadi bagian dari kehidupan, banyak orang mulai menuntut koneksi yang cepat. Kini, terungkap kapan saat Anda bisa mendapatkannya.
Sebuah hasil riset terbaru menyatakan, kecepatan broadband akan mengalami penurunan kecepatan rata-rata 35% selama ‘jam sibuk’ malam di mana saat itu ada jutaan orang mengakses internet ketika mereka pulang dari kerja.
Studi yang menganalisa data dari dua juta penguji kecepatan broadband di seluruh Inggris mengungkap, terdapat fluktuasi besar antara saat peak dan off-peak. Menurut hasil analisa terbaru ini, waktu terbaik untuk berselancar di internet adalah pukul 02.00-3.00 dini hari.
Pada saat itu, kecepatan unduh rata-rata broadband bisa mencapai 9,6Mbs. Mereka yang mengakses internet pada pukul 19.00-21.00 yang merupakaan saat banyak orang online, akan mendapat koneksi broadband paling lambat dengan kecepatan unduh rata-rata 6,2Mbs.
Menurut data yang diterbitkan situs perbandingan uSwitch, ditemukan variasi regional yang besar dalam kecepatan peak dan off-peak. Pengguna internet di Evesham, Worcestershire, Inggris, mengalami penurunan sebesar 69% dengan kecepatan unduh rata-rata 15,5Mbs dibanding saat malam 4,9Mbs.
Weston-Super-Mare di Somerset melihat adanya penuruan 64% saat off-peak dari 9,5Mbs menjadi 3.4Mbs saat jam sibuk. Sementara di Wadebridge, Cornwall, pengguna web dihadapkan dengan penurunan yang ‘lebih baik’ yakni dari 4,1Mbs menjadi 2,1Mbs saat malam.
Ahli teknologi uSwitch Ernest Doku mengatakan, hanya ada sejumlah kecil pengguna internet yang secara konsisten menikmati broadband dengan kecepatan maksimum yang ditawarkan penyedia.
“Hal ini benar-benar mengejutkan mengetahui betapa besar fluktuasi kecepatan unduh pada saat-saat yang berbeda dalam satu hari di mana terjadi penurunan hampir 70% di beberapa daerah di Inggris,” katanya.
Penelitian ini bisa membantu memberi titik terang mengapa banyak konsumen yang yakin telah mendaftar untuk mendapat kecepatan broadband tertentu menjadi bingung dan tak pernah benar-benar merasa mendapat koneksi yang cukup cepat, lanjutnya
“Meski para penyedia bekerja keras mengningkatkan infrastruktur broadband, masih ada jalan panjang di depan untuk memastikan tiap orang bisa menikmati layanan yang jauh lebih konsisten,” katanya.
Doku menyarankan pada para pengguna broadband untuk melakukan tes kecepatan broadband online untuk memastikan mendapat paket terbaik untuk daerahnya.
Sumber: http://www.inilah.com
Label:
Internet,
Kegiatan,
Modem,
Opini,
Software,
Tahukah Anda,
Tips dan Trick
Saturday, September 24, 2011
Islamisasi Pendidikan Kampus, Sebuah Keharusan
ilustrasi kampus
Beberapa bulan lalu ada peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan para
pelaku dan peminat Pendidikan Islam. Setelah menggelar Seminar
Internasional pada 18-19 Mei 2011, lalu Seminar Nasional pada 29 Juni 2011,
tentang Tema yang sama, maka pada Hari Rabu, 20 Juli 2011, Universitas Ibn
Khaldun (UIKA) Bogor menyelenggarakan Lokakarya “Islamisasi Ilmu dan
Kampus” untuk para pejabat Struktural kampus UIKA Bogor.
Lokakarya diikuti oleh seluruh pejabat struktural, mulai Rektor , wakil
Rektor, sampai semua dekan dan para wakil dekan di UIKA. Lokakarya dibuka
oleh Rektor UIKA, Prof. Dr. Ramly Hutabarat. Bertindak sebagai Keynote
speaker adalah Prof Dr Ir AM Saefuddin, dengan pemateri Dr. Adian Husaini
dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.
Bagi UIKA, wacana Islamisasi Ilmu dan Kampus bukanlah hal yang baru.
Gerakan itu sudah diserukan oleh Prof AM Saefuddin saat dia menjadi rektor
UIKA tahun 1983. Dalam paparannya, AM Saefuddin menekankan perlunya
konsep Islamisasi Ilmu dan Kampus diaplikasi kan dengan sungguh-sungguh
dalam kehidupan kampus. Bukan hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam
perilaku sivitas akademika dalam kehidupan kampus.
Dalam Lokakarya tersebut, saya menyampaikan paparan tentang perlunya UIKA
mengambil peluang melaksanakan Islamisasi Ilmu, sebab tuntutan umat Islam
sangat besar, akan terwujudnya satu kampus Islam yang benar-benar Islami dan
bermutu. Banyak orang tua kini bertanya, setelah anaknya tamat di satu SMA
atau Madrasah Aliyah yang baik, ke mana anaknya harus melanjutkan kuliah.
Mereka ingin agar anaknya benar-benar menjadi sarjana yang baik, yakni
memiliki pemahaman Islam yang benar, bebas dari pengaruh liberal, dan
memiliki keahlian tertentu yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan di
dunia.
Ada contoh kasus. Seorang anak lulusan satu Pesantren unggulan yang bermutu
tinggi, hafal al-Quran 30 juz dan juga menguasai ilmu-ilmu Ilmu Pengetahuan
Alam dengan baik. Setelah diterima di satu perguruan tinggi terkenal di
Yogyakarta, si anak kesulitan megembangkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah
dikuasainya saat belajar di pesantrennya.
Islamisasi Ilmu bukan sesuatu yang utopis, sebagaimana dibayangkan oleh
sebagian kalangan, sehingga ada yang ketakutan dengan istilah “Islamisasi”.
Ketika suatu institusi Pendidikan melabeli dirinya dengan kata “Islam”,
atau menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam, maka saat itulah
ia berkewajiban meloakukan proses Islamisasi yang terus-menerus, sehingga
lembaganya menjadi semakin Islami.
*Apanya yang harus Islami?*
Tentu saja, yang harus Islami adalah pemikiran dan perilaku pimpinan dan
dosen-dosennya terlebih dahulu. Sebab, mereka adalah guru, yang – dalam
bahasa Jawa – artinya wajib “digugu” dan “ditiru”. Dosen harus menjadi
teladan bagi mahasiswa, dalam hal keilmuan, ibadah, dan akhlak. Jika hal
itu belum tercapai, maka perlu dilakukan proses Islamisasi!
Selain itu, tentu saja, Islamisasi harus mencakup kurikulum pendidikannya.
Jika masih ada diantara kurikulum yang diajarkan mengandung muatan-muatan
pemikiran secular atau liberal – misalnya – maka hal itu wajib diluruskan
dan di-Islamkan. Jika tidak bisa dilakukan proses Islamisasi, maka kurikulum
sekular itu harus dibuang, atau minimal dibahas untuk dikritisi dengan
perspektif Islam.
Misalnya, kurikulum tentang sains kealaman (*natural sciences*), seharusnya
dikaitkan dengan konsep tauhid dan sejarah sains Islam. Sebab, objek studi
kajian ilmu ini adalah “ayat-ayat Allah”. Jika metode belajar sains itu
Islami, maka pengajaran sains harusnya mengarahkan mahasiswa untuk semakin
mengenal sang-Pencipta (ma’rifatullah) dan mendorong mereka semakin taat
kepada Allah. Jika pelajaran sains semakin menjauhkan mahasiswa dari
Allah, – misalnya hanya diarahkan untuk eksploitasi alam semata-mata --
itu sama saja menjerumuskan manusia ke derajat binatang, bahkan lebih rendah
lagi. (QS 7:179).
Disamping itu, pelajaran sains perlu dikaitkan dengan sejarah sains itu
sendiri, yang selama ini tidak memperkenalkan prestasi para ilmuwan Muslim.
Sejarah sains itu perlu disampaikan dengan jujur, sehingga diharapkan dapat
menanamkan sikap “izzah” (pride) pada diri mahasiswa Muslim. Mereka perlu
paham, bahwa Islam adalah sebuah peradaban yang pernah memimpin dunia dalam
bidang sains, beratus tahun sebelum dunia Barat kemudian mengambil alih
prestasi kaum Muslim tersebut. Islam bukan hanya mimpi dan utopia, tetapi
sebuah konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan: pribadi, keluarga,
masyarakat, dan kenegaraan.
Itu memang masa lalu. Ini bukan soal romantisisme. Tetapi, masa lalu memang
teramat penting untuk memberikan perspektif tentang masa depan. Semua
bangsa menengok masa lalu untuk merumuskan masa depannya. Inilah yang
disebut sejarah. Bangsa Barat mengenalkan masyarakat mereka dengan masa
lalu, agar mereka bangga dengan peradaban mereka di masa Yunani dan Romawi.
Bangsa China, hingga kini, terus menggalakkan masyarakatnya agar tidak
melupakan nilai-nilai masa lampau mereka. Begitu juga bangsa India, Jepang,
dan sebagainya.
Kita, kaum Muslim di Indonesia, juga diarahkan untuk membangga-banggakan
masa lalu kita. Hanya saja, sebagai Muslim, kita dipaksa untuk membanggakan
zaman Majapahit di masa Gajah Mada. Mitos kebesaran Majapahit di zaman Gajah
Mada itulah yang harus kita banggakan. Lalu, dimana letaknya kejayaan Islam
di Indonesia? Kita – secara halus – diajari bahwa tidak ada yang bisa
dibanggakan dari Islam! Islam tidak menghasilkan Borobudur dan Prambanan
yang menjadi kebanggaan dunia. Maka, dampaknya, bangsa kita dilarang
menonjolkan Islam di mana-mana.
Begitu keluar dari pintu bandara internasional Soekarno-Hatta kita tidak
disambut oleh tulisan ayat-ayat al-Quran atau foto-foto Masjid dan
Pesantren. Tapi, kita disambut oleh berbagai jenis patung! Itulah
Indonesia!? Memang, 87% penduduk Indonesia Muslim, tetapi diajarkan bahwa
Islam tidak pernah membawa kemajuan bagi bangsa ini. Bahkan, Islamlah yang
menghancurkan kebesaran Majapahit! Itulah yang diajarkan kepada kita,
kepada anak-anak kita sekarang di sekolah-sekolah, bahkan di madrasah dan
pondok pesantren!
Ironis sekali! Sebuah bangsa Muslim terbesar berhasil dibelokkan dari
sejarahnya sendiri, sehingga bangsa Muslim ini tidak merasa sebagai bagian
dari umat Islam, dan merasa tidak perlu untuk melanjutkan proses Islamisasi
di Kepulauan Nusantara. Akibatnya, kaum Muslim dijauhkan dari rasa memiliki
bangsa ini. Lihatlah, hingga kini, mungkin jarang sekali ada masjid atau
Majlis Ta’lim yang secara sengaja merayakan Peringatan Kemerdekaan RI setiap
tanggal 17 Agustus. Sebab, sudah dijejalkan di kepala kita, sejak sekolah di
SD, yang namanya memperingati kemerdekaan itu hanya dilakukan dengan
Upacara Bendera. Padahal, kemerdekaan RI adalah buah dari perjuangan fi
sabilillah yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.
Sebenarnya, banyak sejarawan yang sudah mencoba meluruskan pengajaran
sejarah di sekolah-sekolah. Sebab, faktanya tidaklah seperti itu. Di
kawasan Nusantara ini, Islam telah menorehkan goresan tinta emas dalam upaya
kebangkitan intelektual. Sebagai contoh, apa yang pernah ditulis oleh
seorang wartawan senior Rosihan Anwar.
Nama Rosihan Anwar (1922-2011), tidaklah terlalu identik dengan sosok
seorang tokoh Islam, seperti Moh. Natsir, Prof. Hamka, KH Ahmad Dahlan, KH
Hasyim Asy’ari, dan sebagainya. Rosihan Anwar lebih dikenal sebagai wartawan
senior yang hidup di beberapa zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang,
Kemerdekaan Indonesia, dan pasca Kemerdekaan. Ia pun sempat menyaksikan naik
turunnya rezim-rezim penguasa di Indonesia, dari Soekarno sampai Soesilo
Bambang Yudhoyono.
Meskipun begitu, membaca sebuah bukunya yang berjudul Jatuh Bangun
Pergerakan Islam di Indonesia (1971), tidak dapat dipungkiri, ada sejumlah
gagasan “Islamisasi” pemahaman sejarah Indonesia, yang menarik untuk
disimak. Kamis (4/8/2011), saya diminta menjadi salah satu pembahas buku
yang kembali diterbitkan oleh Fadli Zon Library. Pembahas lain, Prof. Dr.
Taufik Abdullah, sejarawan senior LIPI.
Buku ini sejatinya merupakan kumpulan surat/nasehat Rosihan Anwar kepada
putrinya, Aida Fathya. Simaklah sebagian kutipan nasehat Rosihan kepada
putrinya tersebut:
“J.M. Pluvier menamakan Islam sebagai suatu pra-nasionalisme di Nusantara.
W.F. Wertheim pun melihat peran Islam sebagai gerakan pra-nasionalisme.
Bahkan Rupert Emerson dan Fred von der Mahden melihat adanya interrelasi
antara hubungan agama dengan nasionalisme di Burma dan Indonesia. Gerakan
kebangsaan di Burma dipelopori oleh Young Men’s Buddhist Association, begitu
juga gerakan nasionalisme Indonesia yang dipelopori oleh orang-orang Islam.
Budi Utomo memang merupakan sebuah gerakan nasionalis, sama seperti
Nationale Indische Partij yang dipimin Douwes Dekker alias Dr. Setia Budi,
tetapi gerakan-gerakan itu kecil. Dan, SI-lah gerakan kebangsaan-keagamaan
yang pertama dengan anggota-anggotanya yang mencapai 2 juta orang ada saat
itu, dan mempunyai organisasi massa yang berakar di kaum petani atau apa
yang dinamakan George Kahin “the first peasant-based mass organisastion.
Inilah yang harus kau ingat selalu, Aida Fathya, bahwa pelopor gerakan
nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda ialah
Islam.”
Meskipun buku ini tidak terlalu mendalam dan terperinci membahas tentang
sejarah perkembangan Islam di Indonesia, tetapi buku ini mengungkap
percikan-percikan fakta sejarah pergerakan nasional Indonesia yang
dipelopori oleh para tokoh dan organisasi Islam. Rosihan membawakan pesan
penting bagi bangsa Indonesia, bahwa Islam adalah pelopor kebangkitan
nasional dan pelopor dalam pembebasan Indonesia dari belenggu penjajahan.
Itu pesan penting dari Rosihan Anwar. Dan pesan itu memiliki nilai yang
sangat berarti, sebab – tidak dapat disangkal – para sejarawan dan
tokoh-tokoh Islam Indonesia telah banyak mengungkapkan kejanggalan penulisan
dan pengajaran sejarah di Indonesia, khususnya yang terkait dengan Islam. Di
sana-sini, secara sistematis, ditemukan upaya untuk mengecilkan peran Islam
dalam sejarah kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia.
Pada catatan yang lalu, kita pernah mengutip tulisan Buya Hamka dalam
Tafsir al-Azhar: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan
hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia
hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. (Lihat, Hamka,
Tafsir al-Azhar -- Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)
Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita sekarang, apakah mereka mengenal
Raden Patah, Raja Muslim Pertama di Tanah Jawa? Raden Patah adalah putra
Raja Majapahit, yang sekaligus santri dari Sunan Ampel. Tanyakan kepada
para siswa di sekolah-sekolah Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi
Sultan Agung yang mengirimkan para tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta
untuk mengusir penjajah Portugis?
Tapi, kita dan anak-anak kita terus dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara
pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa Kerajaan Hindu itulah yang berhasil
menyatukan Nusantara. Lalu, setelah itu, datanglah Kerajaan Islam dengan
Raja-nya Raden Patah dan didukung para Wali Songo, untuk meruntuhkan
Kerajaan Majapahit. Opini yang ingin disampaikan kepada anak-anak kita
tampaknya: “Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah
berhasil dibangun oleh Majapahit!” Sebab, setelah itu -- sebagaimana
digambarkan dalam buku pelajaran Sejarah -- muncul Kerajaan-kerajaan Islam
yang tidak pernah berhasil menjelma menjadi Kerajaan Nasional, sebagaimana
Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yang tidak
kondusif sebagai ”pemersatu Indonesia”. Dengan kata lain, Indonesia hanya
bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah
ateisme, animisme, atau sekularisme.
Padahal, coba tanyakan kepada mereka, kapan Majapahit benar-benar berhasil
menyatukan Nusantara; wilayahnya sampai dimana; dengan cara apa Majapahit
menyatukan Nusantara. Katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah
Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil
mewujudkan sumpahnya? Prof. C.C. Berg, termasuk sejarawan yang mengkritik
upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran Majapahit. Ia menulis sebuah
artikel di Jurnal Indonesiė, Maret 1952, No. 5, berjudul ”*De Sadeng-oorlog*
* en de mythe van Groot-Majapahit” *(Perang Sadeng dan Mitos Kebesaran
Majapahit).
Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam Kitab
anonim Darmagandul yang isinya meratapi keruntuhan Majaphit dan mencerca
para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo). Serat ini begitu
menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang Jawa berganti agama,
dengan meninggalkan Islam. Ditulis, misalnya: "*Wong Djawa ganti agama, akeh
tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kaweruh, *....(Artinya: Orang
Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut)
agama kaweruh ...). Juga ditulis: "*Kitab Arab djaman wektu niki, sampun
mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis,
kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu." *(Artinya: Kitab Arab jaman waktu ini,
sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan
untuk memutusi perkara adalah kitab Kanjeng Nabi Isa Rahullah). (Lihat,
Anonim. Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955).
Fakta pengajaran sains dan sejarah di sekolah-sekolah semacam itu,
seharusnya menjadi perhatian serius dari Perguruan Tinggi Islam (PTI).
Sebab, tugas utama PTI memang melahirkan sarjana-sarjana yang memahami ilmu
agama dan kondisi kontemporer sekaligus. Itulah yang disebut program
Islamisasi. Karena itu, lokakarya “Islamisasi Ilmu” yang dilakukan untuk
para pejabat struktural Kampus UIKA Bogor dapat dijadikan salah satu contoh
yang baik.
Lokakarya di UIKA itu sangat istimewa. Sebab, “peniup peluit” pertama
Islamisasi Ilmu di UIKA, yaitu Prof Dr Ir AM Saefuddin dengan setia
menunggui acara itu, dari pagi hari sampai berakhirnya acara di sore
harinya. Pak AM – begitu dia biasa dipanggil – berharap agar UIKA Bogor bisa
menjadi salah satu kampus tempat bersemainya gagasan Islamisasi Ilmu yang
sudah dia gulirkan 28 tahun sebelumnya. Amin.**/Depok, 23 Ramadhan 1432
H/23 Agustus 2011.*
Lokakarya Islamisasi Ilmu di UIKA
Wednesday, 24 August 2011 04:38
Oleh: Adian Husaini
Beberapa bulan lalu ada peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan para
pelaku dan peminat Pendidikan Islam. Setelah menggelar Seminar
Internasional pada 18-19 Mei 2011, lalu Seminar Nasional pada 29 Juni 2011,
tentang Tema yang sama, maka pada Hari Rabu, 20 Juli 2011, Universitas Ibn
Khaldun (UIKA) Bogor menyelenggarakan Lokakarya “Islamisasi Ilmu dan
Kampus” untuk para pejabat Struktural kampus UIKA Bogor.
Lokakarya diikuti oleh seluruh pejabat struktural, mulai Rektor , wakil
Rektor, sampai semua dekan dan para wakil dekan di UIKA. Lokakarya dibuka
oleh Rektor UIKA, Prof. Dr. Ramly Hutabarat. Bertindak sebagai Keynote
speaker adalah Prof Dr Ir AM Saefuddin, dengan pemateri Dr. Adian Husaini
dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.
Bagi UIKA, wacana Islamisasi Ilmu dan Kampus bukanlah hal yang baru.
Gerakan itu sudah diserukan oleh Prof AM Saefuddin saat dia menjadi rektor
UIKA tahun 1983. Dalam paparannya, AM Saefuddin menekankan perlunya
konsep Islamisasi Ilmu dan Kampus diaplikasi kan dengan sungguh-sungguh
dalam kehidupan kampus. Bukan hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam
perilaku sivitas akademika dalam kehidupan kampus.
Dalam Lokakarya tersebut, saya menyampaikan paparan tentang perlunya UIKA
mengambil peluang melaksanakan Islamisasi Ilmu, sebab tuntutan umat Islam
sangat besar, akan terwujudnya satu kampus Islam yang benar-benar Islami dan
bermutu. Banyak orang tua kini bertanya, setelah anaknya tamat di satu SMA
atau Madrasah Aliyah yang baik, ke mana anaknya harus melanjutkan kuliah.
Mereka ingin agar anaknya benar-benar menjadi sarjana yang baik, yakni
memiliki pemahaman Islam yang benar, bebas dari pengaruh liberal, dan
memiliki keahlian tertentu yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan di
dunia.
Ada contoh kasus. Seorang anak lulusan satu Pesantren unggulan yang bermutu
tinggi, hafal al-Quran 30 juz dan juga menguasai ilmu-ilmu Ilmu Pengetahuan
Alam dengan baik. Setelah diterima di satu perguruan tinggi terkenal di
Yogyakarta, si anak kesulitan megembangkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah
dikuasainya saat belajar di pesantrennya.
Islamisasi Ilmu bukan sesuatu yang utopis, sebagaimana dibayangkan oleh
sebagian kalangan, sehingga ada yang ketakutan dengan istilah “Islamisasi”.
Ketika suatu institusi Pendidikan melabeli dirinya dengan kata “Islam”,
atau menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam, maka saat itulah
ia berkewajiban meloakukan proses Islamisasi yang terus-menerus, sehingga
lembaganya menjadi semakin Islami.
*Apanya yang harus Islami?*
Tentu saja, yang harus Islami adalah pemikiran dan perilaku pimpinan dan
dosen-dosennya terlebih dahulu. Sebab, mereka adalah guru, yang – dalam
bahasa Jawa – artinya wajib “digugu” dan “ditiru”. Dosen harus menjadi
teladan bagi mahasiswa, dalam hal keilmuan, ibadah, dan akhlak. Jika hal
itu belum tercapai, maka perlu dilakukan proses Islamisasi!
Selain itu, tentu saja, Islamisasi harus mencakup kurikulum pendidikannya.
Jika masih ada diantara kurikulum yang diajarkan mengandung muatan-muatan
pemikiran secular atau liberal – misalnya – maka hal itu wajib diluruskan
dan di-Islamkan. Jika tidak bisa dilakukan proses Islamisasi, maka kurikulum
sekular itu harus dibuang, atau minimal dibahas untuk dikritisi dengan
perspektif Islam.
Misalnya, kurikulum tentang sains kealaman (*natural sciences*), seharusnya
dikaitkan dengan konsep tauhid dan sejarah sains Islam. Sebab, objek studi
kajian ilmu ini adalah “ayat-ayat Allah”. Jika metode belajar sains itu
Islami, maka pengajaran sains harusnya mengarahkan mahasiswa untuk semakin
mengenal sang-Pencipta (ma’rifatullah) dan mendorong mereka semakin taat
kepada Allah. Jika pelajaran sains semakin menjauhkan mahasiswa dari
Allah, – misalnya hanya diarahkan untuk eksploitasi alam semata-mata --
itu sama saja menjerumuskan manusia ke derajat binatang, bahkan lebih rendah
lagi. (QS 7:179).
Disamping itu, pelajaran sains perlu dikaitkan dengan sejarah sains itu
sendiri, yang selama ini tidak memperkenalkan prestasi para ilmuwan Muslim.
Sejarah sains itu perlu disampaikan dengan jujur, sehingga diharapkan dapat
menanamkan sikap “izzah” (pride) pada diri mahasiswa Muslim. Mereka perlu
paham, bahwa Islam adalah sebuah peradaban yang pernah memimpin dunia dalam
bidang sains, beratus tahun sebelum dunia Barat kemudian mengambil alih
prestasi kaum Muslim tersebut. Islam bukan hanya mimpi dan utopia, tetapi
sebuah konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan: pribadi, keluarga,
masyarakat, dan kenegaraan.
Itu memang masa lalu. Ini bukan soal romantisisme. Tetapi, masa lalu memang
teramat penting untuk memberikan perspektif tentang masa depan. Semua
bangsa menengok masa lalu untuk merumuskan masa depannya. Inilah yang
disebut sejarah. Bangsa Barat mengenalkan masyarakat mereka dengan masa
lalu, agar mereka bangga dengan peradaban mereka di masa Yunani dan Romawi.
Bangsa China, hingga kini, terus menggalakkan masyarakatnya agar tidak
melupakan nilai-nilai masa lampau mereka. Begitu juga bangsa India, Jepang,
dan sebagainya.
Kita, kaum Muslim di Indonesia, juga diarahkan untuk membangga-banggakan
masa lalu kita. Hanya saja, sebagai Muslim, kita dipaksa untuk membanggakan
zaman Majapahit di masa Gajah Mada. Mitos kebesaran Majapahit di zaman Gajah
Mada itulah yang harus kita banggakan. Lalu, dimana letaknya kejayaan Islam
di Indonesia? Kita – secara halus – diajari bahwa tidak ada yang bisa
dibanggakan dari Islam! Islam tidak menghasilkan Borobudur dan Prambanan
yang menjadi kebanggaan dunia. Maka, dampaknya, bangsa kita dilarang
menonjolkan Islam di mana-mana.
Begitu keluar dari pintu bandara internasional Soekarno-Hatta kita tidak
disambut oleh tulisan ayat-ayat al-Quran atau foto-foto Masjid dan
Pesantren. Tapi, kita disambut oleh berbagai jenis patung! Itulah
Indonesia!? Memang, 87% penduduk Indonesia Muslim, tetapi diajarkan bahwa
Islam tidak pernah membawa kemajuan bagi bangsa ini. Bahkan, Islamlah yang
menghancurkan kebesaran Majapahit! Itulah yang diajarkan kepada kita,
kepada anak-anak kita sekarang di sekolah-sekolah, bahkan di madrasah dan
pondok pesantren!
Ironis sekali! Sebuah bangsa Muslim terbesar berhasil dibelokkan dari
sejarahnya sendiri, sehingga bangsa Muslim ini tidak merasa sebagai bagian
dari umat Islam, dan merasa tidak perlu untuk melanjutkan proses Islamisasi
di Kepulauan Nusantara. Akibatnya, kaum Muslim dijauhkan dari rasa memiliki
bangsa ini. Lihatlah, hingga kini, mungkin jarang sekali ada masjid atau
Majlis Ta’lim yang secara sengaja merayakan Peringatan Kemerdekaan RI setiap
tanggal 17 Agustus. Sebab, sudah dijejalkan di kepala kita, sejak sekolah di
SD, yang namanya memperingati kemerdekaan itu hanya dilakukan dengan
Upacara Bendera. Padahal, kemerdekaan RI adalah buah dari perjuangan fi
sabilillah yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.
Sebenarnya, banyak sejarawan yang sudah mencoba meluruskan pengajaran
sejarah di sekolah-sekolah. Sebab, faktanya tidaklah seperti itu. Di
kawasan Nusantara ini, Islam telah menorehkan goresan tinta emas dalam upaya
kebangkitan intelektual. Sebagai contoh, apa yang pernah ditulis oleh
seorang wartawan senior Rosihan Anwar.
Nama Rosihan Anwar (1922-2011), tidaklah terlalu identik dengan sosok
seorang tokoh Islam, seperti Moh. Natsir, Prof. Hamka, KH Ahmad Dahlan, KH
Hasyim Asy’ari, dan sebagainya. Rosihan Anwar lebih dikenal sebagai wartawan
senior yang hidup di beberapa zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang,
Kemerdekaan Indonesia, dan pasca Kemerdekaan. Ia pun sempat menyaksikan naik
turunnya rezim-rezim penguasa di Indonesia, dari Soekarno sampai Soesilo
Bambang Yudhoyono.
Meskipun begitu, membaca sebuah bukunya yang berjudul Jatuh Bangun
Pergerakan Islam di Indonesia (1971), tidak dapat dipungkiri, ada sejumlah
gagasan “Islamisasi” pemahaman sejarah Indonesia, yang menarik untuk
disimak. Kamis (4/8/2011), saya diminta menjadi salah satu pembahas buku
yang kembali diterbitkan oleh Fadli Zon Library. Pembahas lain, Prof. Dr.
Taufik Abdullah, sejarawan senior LIPI.
Buku ini sejatinya merupakan kumpulan surat/nasehat Rosihan Anwar kepada
putrinya, Aida Fathya. Simaklah sebagian kutipan nasehat Rosihan kepada
putrinya tersebut:
“J.M. Pluvier menamakan Islam sebagai suatu pra-nasionalisme di Nusantara.
W.F. Wertheim pun melihat peran Islam sebagai gerakan pra-nasionalisme.
Bahkan Rupert Emerson dan Fred von der Mahden melihat adanya interrelasi
antara hubungan agama dengan nasionalisme di Burma dan Indonesia. Gerakan
kebangsaan di Burma dipelopori oleh Young Men’s Buddhist Association, begitu
juga gerakan nasionalisme Indonesia yang dipelopori oleh orang-orang Islam.
Budi Utomo memang merupakan sebuah gerakan nasionalis, sama seperti
Nationale Indische Partij yang dipimin Douwes Dekker alias Dr. Setia Budi,
tetapi gerakan-gerakan itu kecil. Dan, SI-lah gerakan kebangsaan-keagamaan
yang pertama dengan anggota-anggotanya yang mencapai 2 juta orang ada saat
itu, dan mempunyai organisasi massa yang berakar di kaum petani atau apa
yang dinamakan George Kahin “the first peasant-based mass organisastion.
Inilah yang harus kau ingat selalu, Aida Fathya, bahwa pelopor gerakan
nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda ialah
Islam.”
Meskipun buku ini tidak terlalu mendalam dan terperinci membahas tentang
sejarah perkembangan Islam di Indonesia, tetapi buku ini mengungkap
percikan-percikan fakta sejarah pergerakan nasional Indonesia yang
dipelopori oleh para tokoh dan organisasi Islam. Rosihan membawakan pesan
penting bagi bangsa Indonesia, bahwa Islam adalah pelopor kebangkitan
nasional dan pelopor dalam pembebasan Indonesia dari belenggu penjajahan.
Itu pesan penting dari Rosihan Anwar. Dan pesan itu memiliki nilai yang
sangat berarti, sebab – tidak dapat disangkal – para sejarawan dan
tokoh-tokoh Islam Indonesia telah banyak mengungkapkan kejanggalan penulisan
dan pengajaran sejarah di Indonesia, khususnya yang terkait dengan Islam. Di
sana-sini, secara sistematis, ditemukan upaya untuk mengecilkan peran Islam
dalam sejarah kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia.
Pada catatan yang lalu, kita pernah mengutip tulisan Buya Hamka dalam
Tafsir al-Azhar: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan
hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia
hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. (Lihat, Hamka,
Tafsir al-Azhar -- Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)
Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita sekarang, apakah mereka mengenal
Raden Patah, Raja Muslim Pertama di Tanah Jawa? Raden Patah adalah putra
Raja Majapahit, yang sekaligus santri dari Sunan Ampel. Tanyakan kepada
para siswa di sekolah-sekolah Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi
Sultan Agung yang mengirimkan para tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta
untuk mengusir penjajah Portugis?
Tapi, kita dan anak-anak kita terus dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara
pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa Kerajaan Hindu itulah yang berhasil
menyatukan Nusantara. Lalu, setelah itu, datanglah Kerajaan Islam dengan
Raja-nya Raden Patah dan didukung para Wali Songo, untuk meruntuhkan
Kerajaan Majapahit. Opini yang ingin disampaikan kepada anak-anak kita
tampaknya: “Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah
berhasil dibangun oleh Majapahit!” Sebab, setelah itu -- sebagaimana
digambarkan dalam buku pelajaran Sejarah -- muncul Kerajaan-kerajaan Islam
yang tidak pernah berhasil menjelma menjadi Kerajaan Nasional, sebagaimana
Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yang tidak
kondusif sebagai ”pemersatu Indonesia”. Dengan kata lain, Indonesia hanya
bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah
ateisme, animisme, atau sekularisme.
Padahal, coba tanyakan kepada mereka, kapan Majapahit benar-benar berhasil
menyatukan Nusantara; wilayahnya sampai dimana; dengan cara apa Majapahit
menyatukan Nusantara. Katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah
Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil
mewujudkan sumpahnya? Prof. C.C. Berg, termasuk sejarawan yang mengkritik
upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran Majapahit. Ia menulis sebuah
artikel di Jurnal Indonesiė, Maret 1952, No. 5, berjudul ”*De Sadeng-oorlog*
* en de mythe van Groot-Majapahit” *(Perang Sadeng dan Mitos Kebesaran
Majapahit).
Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam Kitab
anonim Darmagandul yang isinya meratapi keruntuhan Majaphit dan mencerca
para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo). Serat ini begitu
menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang Jawa berganti agama,
dengan meninggalkan Islam. Ditulis, misalnya: "*Wong Djawa ganti agama, akeh
tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kaweruh, *....(Artinya: Orang
Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut)
agama kaweruh ...). Juga ditulis: "*Kitab Arab djaman wektu niki, sampun
mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis,
kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu." *(Artinya: Kitab Arab jaman waktu ini,
sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan
untuk memutusi perkara adalah kitab Kanjeng Nabi Isa Rahullah). (Lihat,
Anonim. Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955).
Fakta pengajaran sains dan sejarah di sekolah-sekolah semacam itu,
seharusnya menjadi perhatian serius dari Perguruan Tinggi Islam (PTI).
Sebab, tugas utama PTI memang melahirkan sarjana-sarjana yang memahami ilmu
agama dan kondisi kontemporer sekaligus. Itulah yang disebut program
Islamisasi. Karena itu, lokakarya “Islamisasi Ilmu” yang dilakukan untuk
para pejabat struktural Kampus UIKA Bogor dapat dijadikan salah satu contoh
yang baik.
Lokakarya di UIKA itu sangat istimewa. Sebab, “peniup peluit” pertama
Islamisasi Ilmu di UIKA, yaitu Prof Dr Ir AM Saefuddin dengan setia
menunggui acara itu, dari pagi hari sampai berakhirnya acara di sore
harinya. Pak AM – begitu dia biasa dipanggil – berharap agar UIKA Bogor bisa
menjadi salah satu kampus tempat bersemainya gagasan Islamisasi Ilmu yang
sudah dia gulirkan 28 tahun sebelumnya. Amin.**/Depok, 23 Ramadhan 1432
H/23 Agustus 2011.*
Lokakarya Islamisasi Ilmu di UIKA
Wednesday, 24 August 2011 04:38
Oleh: Adian Husaini
Tuesday, September 20, 2011
Poject Karang Taruna di BSM Care
Tentang BSM Care
Anda ingin beramal dan perlu dana? Realisasikan niat baik Anda bersama BSM.Sahabat BSM, segera usulkan niat baik Anda untuk membuat proyek amal. BSM siap menghibahkan dana maksimal Rp50 juta untuk aksi amal Anda. Aksi amal ini haruslah salah satu dari tiga jenis kategori, yaitu: Pendidikan, Lingkungan, dan Sosial. Bila usulan Anda memenuhi syarat dan ketentuan yang kami tetapkan serta mendapatkan dukungan tertinggi dari masyarakat, kami akan penuhi usulan Anda. Dukungan masyarakat tertinggi kami tunjukkan di halaman “Top 10”. Dukungan masyarakat dapat Anda dapatkan dengan Empat Cara yaitu mengajak orang lain untuk masuk ke halaman usulan Anda dan minta mereka untuk:
- Cara 1, menautkan usulan ke twitter;
- Cara 2, mengklik tombol Facebook Like;
- Cara 3, meng-klik tombil bertanda jempol;
- Cara 4, memberikan komentar positif, bila perlu.
BSM Care periode September – Oktober 2011
Jadilah pemberi usulan terbaik untuk periode ini. Usulan terbaik yang akan jadi pemenang adalah usulan yang:
- memenuhi syarat dan ketentuan.
- memiliki dukungan masyarakat tertinggi.
Pemenang akan kami umumkan pada minggu pertama November 2011 melalui: www.syariahmandiri.co.id
Tips
Untuk bisa menduduki usulan dengan nilai akhir tertinggi, para Sahabat BSM dapat mencoba tips berikut ini:
- Usulkan kegiatan amal (pendidikan, sosial, atau lingkungan) yang betul-betul dibutuhkan di lingkungan Anda dan berdampak besar bagi masyarakat sekitar.
- Hindari diskualifikasi dengan menjunjung tinggi validitas data kebenaran usulan, usulan itu benar-benar kegiatan amal, secara teknis dapat dilakukan, dll. Sekali lagi, lihat syarat dan ketentuan kami.
- Ajak kenalan Anda untuk:
- Masuk ke halaman usulan Anda. Disarankan Anda meng-copy web address yang ada di bagian atas peramban (browser) yang Anda gunakan.
- Bagikan web-address usulan Anda melalui berbagai cara, bisa melalui SMS, Instant Messaging, milis, berbagai media sosial, dan lain-lain. Bahkan bila Anda punya website, Anda dapat menempatkan banner yang ditautkan ke usulan Anda tersebut.
- Ajak kenalan Anda tersebut untuk mendukung usulan Anda dengan mengikuti Empat Cara di atas.
- Pantau terus perkembangannya dengan membandingkan profil usulan Anda dengan usulan yang telah masuk Top 10.
- Terus berusaha agar usulan Anda masuk Top 1.
Mohon
partisipasi dan dukungannya ya sahabat, dengan membuka link dibawah ini
dan di like (facebook) dan di tweet ya.
Pembinaan kegiatan di bidang
Keagamaan (kerohanian), Ekonomi, Olahraga, Keorganisasian, Ketrampilan,
Kesenian, Teknologi, dan Sistem Informasi bagi masyarakat dan khususnya bagi para
pemuda sangatlah dibutuhkan. untuk dapat membentuk pola pembangunan
masyarakat dan sikap mental para pemuda dalam membangun, mencerdaskan
dan mensejahterakan masyarakatnya.
http://www.syariahmandiri.co.id/bsm-care/usulan-anda/sosial/poject-karang-taruna/
Terimakasih kami ucapkan kepada sahabat-sahabat sekalian yang sekiranya telah membantu dan mensupport project kami.
Label:
Acara,
BSM Care,
Ekonomi,
Karang Taruna,
Keagamaan (kerohanian),
Kegiatan,
Keorganisasian,
Kesenian,
Ketrampilan,
Lingkungan,
Masyarakat,
Olahraga,
Pemuda,
Pendidikan,
Project,
Sistem Informasi,
Sosial,
Teknologi
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mario Teguh's Quotes
Quotes
Traffic Exchange
EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!





