Welcome

Berawal dari ketiadaan, kita berpikir dan belajar untuk menciptakan. Membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih berarti dan lebih bermanfaat. "Mari berbagi manfaat" #Give thank to Allah, the Creator of all things.
Showing posts with label Jejak Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Jejak Tokoh. Show all posts

Wednesday, December 21, 2011

Ali bin Abi Thalib (Haydar bin Abu Thalib)


 
Ali bin Abi Thalib (599 – 661) adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam.

Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.
Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi’ah meninggikan kedudukan Ali atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Syi’ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.
Sebagian Sunni yaitu mereka yang menjadi anggota Bani Umayyah dan para pendukungnya memandang Ali sama dengan Sahabat Nabi yang lain.

Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.


Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.

Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Dari beliau bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah keturunan beliau sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja’far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.

Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah.

Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW terkesan tidak suka, karena itu mulai memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).

Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.
Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) kepada Yesus (Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi’ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada Nabi Musa.

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah ‘Ihsan’) atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain.

Karena bila ilmu Syari’ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.

Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior)atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.

Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.

Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain.


Perang Badar
Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
 
Perang Khandaq
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
 
Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng 
 
Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda:
“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.
 
Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.

Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.


Setelah Nabi Wafat
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi’ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.
 
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai’at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai’at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.


Sebagai Khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.
 
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Beliau meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra dan memiliki keseluruhan 36 orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah Hasan dan Husain.

Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berarti bangsawan dan Sayyed berarti tuan. Sebagai keturunan langsung dari Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi’ah.

Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri dari 18 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau Alawiyah. Sampai saat ini keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.

Sumber: Dari berbagai sumber.

Tuesday, December 13, 2011

10 MUWASAFAT TARBIYAH


Mungkin, saya udah pernah memposting isi yang sama di blog saya sebelumnya, tetapi tidak ada salahnya jika kita mengingat-ingat kembali karakter-karakter seorang muslim/muslimah sejati menurut Syekh Asy Syahid Hasal Al Banna ini. Karakter ini merupakan pilar-pilar terbentuknya masyarakat islam maupun tertegaknya sistem islam dimuka bumi serta menjadi tiang penyangga peradaban dunia.

Monday, September 19, 2011

Resensi Buku Tarbiyah Politik Hasan Al-Banna



Hasan Al-Banna adalah seorang mujahid dakwah yang tidak hanya mewariskan Ikhwanul Muslimin yang kini menjadi gerakan Islam terbesar di dunia. Ia juga mewariskan pemikiran-pemikiran yang sangat berharga bagi dunia Islam, tidak hanya bagi Ikhwan. Kontribusi pemikirannya telah memenuhi ruang sejarah tersendiri yang sampai kini terus dikaji dan diadopsi banyak gerakan Islam. Begitupun pemikirannya dalam bidang politik.

Resensi Buku Kemunduran Umat Islam, Siapa yang bertanggung Jawab?





Buku Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab? adalah karya Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, menantu Hasan Al-Banna. Buku ini membahas kemunduran umat Islam dalam perspektif yang berbeda.

Kemunduran umat Islam, menurut banyak sejarawan dimulai saat jatuhnya kota Baghdad di tangan Hulagu Khan pada tahun 1250 M. Ini pertanda yang awal dari berakhirnya supremasi Khilafah Abbasyiyah dan titik awal kemunduran umat Islam di bidang politik dan peradaban Islam yang selama berabad-abad lamanya menjadi kebanggaan umat.

Pada masa kekhilafahan Islam dipegang Daulah Utsmaniyah, sesungguhnya usaha memajukan peradaban Islam dimulai kembali dan memang ada masa-masa kejayaan pada rentang waktu itu. Seperti kemenangan Muhammad Al-Fatih dalam memfutuhkan Konstantinopel dan lain-lain. Namun belum sampai pertengahan masa daulah Utsmaniyah bertahan, penurunan terjadi kembali dan semakin mundur.

Sejak abad 14 H, banyak ulama, pemikir Islam dan harakah Islamiyah yang mencangkannya sebagai masa kebangkitan. Namun Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi –dengan menulis buku ini- justru mengisyaratkan bahwa sekarangpun umat Islam masih berada dalam masa kemunduran. Dan karenanya perlu dicari solusinya.

Siapakah Muhammad Said Ramadlan Al-Buthi?
Said Ramadhan Al-Buthi adalah salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin yang juga menjadi menantu Hasan Al-Banna. Beliau seorang ulama berpengaruh di Syria yang cukup produktif menulis buku. Karyanya yang paling fenomenal adalah Fiqhus Sirah. Selain Fiqhus Sirah dan buku ini, Man al-Mas-uul 'an Takhallufil Muslimiina, karya beliau antara lain :
1. Muhadharat Fil Fiqhil Muqharin Ma'a Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha' Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil Muqarin (Problematika Dalam Fiqh Muqarin, Sebab Terjadinya Perbedaan Fuqaha', dan Pentingnya Mempelajari Fiqh Muqarin)
2. Al-Islam Maladz Kulli Mujtama'at Insaniyyah; Limadza Wa Kaifa? (Islam Tempat Berlindung Seluruh Masyarakat Sosial; Mengapa dan Bagaimana?)
3. Al Jihad Fil Islam; Kaifa Nafhamuhu ? Wa Kaifa Numarisuhu? (Jihad dalam Islam; Bagaimana Kita Memahami dan Melaksanakannya?
4. Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami
5. Al 'Uqhubat Islamiyyah; Wa 'Aqduhu al-Tanaqhudhu Bainaha Wa Baina Ma Yusamma Bithobi'ihal
6. Hurriyatul Insan Fi Dhilli 'Ubudiyyahatihi Lillah (Kebebasan Manusia Dalam Beribadah)
7. Difa' 'An Islam Wa Tarikh (Belaan Terhadap Islam dan sejarah)
8. Al Islam Wa 'Asru; Tahaddiyat Wa 'Afaq (Islam dan Modernisme; Sebuah Tantangan dan Harapan)

Apa Diferensiasi Buku Ini?
Banyak buku mengenai kemunduran umat Islam yang telah ditulis. Baik oleh penulis muslim maupun para orientalis. Buku-buku itu mencoba menganalisa mengapa terjadi kemunduran umat Islam dan mencoba menawarkan solusinya berupa upaya kebangkitan umat.

Buku-buku yang ditulis oleh orientalis –khususnya-, menghasilkan kesimpulan bahwa kemunduran umat Islam yang bersamaan dengan kemajuan Barat, adalah karena tradisi keagamaan yang cenderung membatasi umat Islam. Pendapat ini dipaparkan di awal buku, pada bab I, dan ditolak oleh Said Ramadhan Al-Buthi dengan menunjukkan argumentasi di mana letak kesalahannya.

Buku Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab? ini mencoba memadukan antara dalil naqli dengan argumentasi ilmiah dalam membahas kemunduran umat Islam, siapa yang bertanggungjawab, dan bagaimana solusinya. Akan kita temui dalam buku ini banyak catatan kaki yang berisi data pendukung argumentasi Said Ramadhan Al-Buthi. Dalam isi buku juga ditampilkan data-data modern seperti perkembangan pemakaian teknologi rumah tangga di Prancis (mewakili Eropa) dalam rentang 25 tahun dibandingkan dengan Arab yang tertinggal 5 tahun.

Mengapa Masa Sekarang Masih Disebut Masa Kemunduran?
Berangkat dari definisi "kemunduran" Said Ramadhan Al-Buthi berpendapat bahwa masa sekarang pun umat Islam masih mengalami kemunduran. Kemunduran dalam buku ini didefinisikan sebagai kata yang mencakup berbagai bentuk kelemahan, kebodohan atau kekurangan dalam kehidupan suatu umat. Kemunduran itu sendiri menjangkit ke dalam persatuan atau kepercayaan umat muslim sehingga kekuasaan Zionisme Yahudi, misalnya, dengan mudahnya merebut tanah Palestina. Bahkan, kemunduran bisa saka terjadi akibat adanya stagnasi ilmiah dan keengganan umat untuk mengeksploitasi kandungan bumi.

Di sisi lain, bangsa asing berupaya mencari berbagai cara untuk mencapai puncak kemajuan ilmu pengetahuan.

Sebab Kemunduran Umat Islam
Pada banyak tempat Said Ramadhan Al-Buthi menyebutkan bahwa kemunduran umat Islam bukan karena agamanya, bukan karena Islam. Kemajuan suatu bangsa terdahulu juga tidak serta merta meminggirkan agama, sejarah atau tradisinya.

Sebaliknya, Islam justru menjamin kemajuan umatnya, ketika Islam diaplikasikan dengan benar. Itu yang pernah terjadi pada Mit Ghorm Local Saving Bank, yang diambil Said Ramadhan Al-Buthi sebagai contoh. Mit Ghorm Local Saving Bank merupakan sebuah bank di Mesir yang mempraktikkan sistem Islam dengan meninggalkan bunga yang tidak lain adalah riba. Bank ini sukses dan mengalami kemajuan pesat dalam waktu singkat. Meskipun kemudian ia tidak didukung akibat kepentingan politik rezim penguasa.

Said Ramadhan Al-Buthi kemudian menjelaskan secara detail faktor-faktor kemunduran umat Islam dalam bab III. Pertama, Instabilitas mental dan rasional. Yaitu segala bentuk kekacauan dalam jiwa dan pemikiran. Kekacauan ini bermula dari pengalaman sejarah yang bertemu dengan infiltrasi pemikiran ekstern. Ketika daulah Utsmaniyah selama beberapa kurun mencapai puncak kekuasaan dan kejayaannya, lambat laun mengalami kemunduran akibat ketimpangan intern dan makar zionis. Umat yang terfragmen dalam beberapa kelompok saling bermusuhan sehingga semakin merapuhkan daulah. Sementara itu Eropa bangkit dengan pesat, sambil "membiuskan" pemikiran bahwa kemajuan mereka adalah karena meninggalkan tradisi lama, termasuk agama. Ini yang membuat umat Islam secara internal semakin kacau pola pikirnya dan kemunduran semakin tak terhindarkan.

Kedua, Tidak adanya rencana secara matang. Maksudnya adalah ketiadaan programisasi yang menjadi bagian terpenting dari sebuah metodologi yang bersifat kompleks. Ketiadaan ini menjadi sistemik, bukan saja karena kurangnya intelektual dan pemimpin umat yang memikirkan secara strategis bagaimana memajukan umat ini, tetapi juga kondisi pendidikan umat Islam yang pelulusannya bersifat despostis.

Ketiga, Hilangnya positivisme diantara sektor-sektor umat. Secara nyata kondisi ini bisa dipahami sebagai hilangnya solidaritas diantara semua level yang ada, yang seharusnya membudayakan nilai-nilai positif sebagai penopang utamanya.

Keempat, ketiadaan unsur-unsur pendidikan beserta nilai-nilai budaya demi memerangi keterbelakangan. Dan kelima, terpecahnya persatuan. Di mana fanatisme yang meracuni banyak kelompok dan melahirkan sikap merasa paling benar dan berhak eksis serta mendominasi lebih dari entitas yang lain.

Solusi yang Ditawarkan
Bab IV, bab terakhir, justru merupakan bab terpendek dalam buku ini. Sehingga solusi yang dimuat dalam buku ini pun bersifat umum dan tidak mendetail. Inilah barangkali yang menjadi kelemahan buku ini. Said Ramadhan Al-Buthi menyimpulkan bahwa solusi itu tidak lain adalah kembali kepada Islam. Bukan justru sebaliknya, mengaitkan kemunduran umat Islam dengan ajarannya. Dengan memahami Islam pula, kita bisa membedakan Islam dan sejarah umatnya. Islam yang merupakan rahmatan lil alamin, jalan yang dibentangkan Allah kepada hamba-Nya, adalah jalan pasti untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.

Judul Buku : Kemunduran Umat Islam: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Judul Asli : Man al-Mas-uul 'an Takhallufil Muslimiina
Penulis : Dr. Muhammad Sa'id Ramadlan Al-Buthi
Penerjemah : M. Burhanuddin - Muallimin
Penerbit : Mashun, Kelompok Masmedia Buana Pustaka, Sidoarjo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Maret 2009
Tebal Buku : 151 halaman

sumber: dari sini

Monday, February 28, 2011

Ummu Salamah r.a

Lembaran sejarah hijrah Ummat Islam ke Madinah, barangkali tidak bisa melupakan torehan tinta seorang ibu dengan putrinya yang masih balita.

Keduanya, hanya dengan mengendarai unta dan tidak ada seorang lelakipun yang menemaninya, meski kemudian ditengah jalan ada orang yang iba dan kemudian mengantarnya, berani menembus kegelapan malam, melewati teriknya siang dan melawan ganasnya padang sahara, mengarungi perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, kurang lebih 400 km. Dialah Salamah dan ibunya, Hindun bin Abi Umayyah atau sejarah lebih sering menyebutnya dengan Ummu Salamah.

Ummu Salamah adalah putri dari pemuka kaum kaya dibani Mughirah, Abi Umayyah. Parasnya jelita dan ia adalah seorang yang cerdas. Setelah menginjak usia remaja ia dinikahkan dengan Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Lalu keduanya berkat hidayah Allah SWT menyatakan keislamannya.
Ketika kaum Muslimin berhijrah keMadinah, keduanya ikut pula didalamnya, meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Abdullah (Abu Salamah) berangkat terlebih dahulu, setelah itu Ummu Salamah menyusul seorang diri dengan anaknya. Lalu mulailah mereka berdua menjalani kehidupannya bersama anak-anaknya dikota Madinah tercinta.

Tapi tak lama kemudian Abu Salamah akibat luka yang dideritanya semenjak perang Uhud meninggal dunia. Akhirnya Ummu Salamahpun seorang diri mengasuh dan mendidik anak-anaknya.Kemudian datanglah Abu Bakar r.a untuk melamarnya, juga Umar bin Khattab r.a. Namun dengan lemah lembut kedua lamaran tersebut ia kembalikan.
Setelah itu datang pula utusan Rasulullah SAW untuk meminangnya. Ummu Salamahpun menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Namun setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah SAW akhirnya ia menerima lamaran tersebut.

Diantara para istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah adalah istri yang tertua. Dan untuk menghormatinya, Rasulullah SAW sebagaimana kebiasaannya sehabis sholat Ashar, beliau mengunjungi istri-istrinya maka beliau memulainya dengan Ummu Salamah r.a dan mengakhirinya dengan Aisyah r.a
Ummu Salamah wafat pada usia 84 th, bulan Dzul-Qo`dah,tahun 59 Hijrah atau 62 Hijrah dan dikebumikan diBaqi`. Wallahu a`lam bish-Showab.
( Diolah dari Shifatus Shofwah, Ibnu Jauzi;Min `Alamin Nisa; M.Quthb,dll)

Ditulis Oleh : Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Mario Teguh's Quotes

Quotes

Blogger Jogja

Traffic Exchange

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

Wibiya provides a web toolbar that enables blogs and websites to integrate the most exciting services and web applications into their blog or website.