Welcome

Berawal dari ketiadaan, kita berpikir dan belajar untuk menciptakan. Membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih berarti dan lebih bermanfaat. "Mari berbagi manfaat" #Give thank to Allah, the Creator of all things.
Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Tuesday, October 30, 2012

Istri Idaman [Kisah]


 
Aku ingin istri yang cantik Ma, yang pintar dan bisa enak diajak diskusi, nyambung ketika bicara dan mudah dibawa masuk ke dalam acara keluarga, dan utamanya menerima kekurangan dan kelebihan kita Ma,” Anto memaparkan alasan kenapa sudah 32 tahun belum juga mau menikah.

“ Mama, tahu kan betapa menderitanya Bang Ucok, punya istri yang kaya
ra
ya namun arogan setengah mati, Ma tahu kan Bang Ucok itu apalagi setelah di PHK makin sering dimarahin istrinya siang malam, kemarin saja aku dengar sendiri istrinya teriak - teriak di telepon nyuruh Bang Ucok cepat pulang dari sini, itu karena Maryam, anak Bang Ucok yang ke dua sakit panas. Yaa mestinya istrinya ngertilah Bang Ucok kan cuma sebentar di sini, cuma mampir nengokin anak yang baru pulang dari rumah sakit, kan sebentar. Kalau salah pilih istri malah bikin suami- suami jadi pusing, dan rumah tangga jadi gak bahagia,” Urai Anto panjang lebar dan seakan meminta pengertian sang Mama.

“ Ada lagi istri si Umar, Mama ingat kan Umar kawan kuliahku dulu yang ketua rohis (rohani islam)? yang berjenggot itu lho Ma, Da’i yang rajin banget sholat bahkan ikut - ikut berdakwah, dan sekarang sesekali berdakwah di mushola kantorku ... tapi baru saja ku dengar mereka bercerai, masing - masing bawa satu anak, karena ku dengar istrinya sangat kasar dan suka melempar - lempar barang kalau marah, kebayang gak sih punya istri marah - marah melulu, hidup jadi gak tenang kan, " gerutu Anto lagi.

***
“Lalu kamu mau punya istri yang kaya siapa To? di dunia ini kan tidak ada bidadari yang numpang lewat lalu menawarkan diri jadi istri kamu,” tanya Mamanya Anto dengan lembut. “ Tidak ada perempuan yang sempurna di dunia ini, susah nyari yang sempurna, pasti ada cacat celanya,” Mama meneruskan sambil memegang bahu Anto dengan penuh kasih sayang. “ Mama ini sudah tua To, Mama hanya ingin sepeninggal Mama nanti, kamu ada yang mengurus, merawat dan sudah punya anak - anak yang akan membuatmu menjadi dewasa dan gembira karena anak - anak itu membuat seorang suami menjadi lebih bertanggung jawab atas rumah tangga dan kehidupan ini. Tidak lama lagi mungkin Mama akan menyusul ayahmu To, Mama hanya ingin sepeninggal Mama, kamu telah memperkenalkan istrimu pada Mama,” isak ibunya Anto tertahan.

Anto hanya terdiam dan tercenung lama, gumamnya dalam hati, “ karena aku belum menemukan wanita seperti dirimu, Ma yang diam saja bila dimarahi suaminya, yang selau berkata lembut, yang selalu mengerti aku, yang selalu mengalah dan mendahulukan kepentinganku, yang pasrah dikasih uang berapa saja oleh suaminya, yang cantik seperti dirimu, yang menyayangi anak - anaknya seperti dirimu, aku susah sekali menemukan wanita yang baik seperti dirimu di zaman sekarang ini, banyak perempuan cantik namun mereka tidak memiliki sifat-sifat yang kuinginkan dari seorang wanita yang mengalah dan keibuaan seperti dirimu,” demikian renung Anto dalam hati.

Hmm, namun Anto sebenarnya tidak tahu bahwa, sudah berapa kali ibunya minta cerai pada ayahnya, sudah berapa kali ibunya membantah ucapan ayahnya, sudah berapa kali ibunya marah-marah dan membanting pintu dengan keras pada ayahnya dalam hal berbeda pendapat yang cukup banyak, dalam ucapan - ucapan yang kerap salah pemaknaannya yang sering kali memicu pertengkaran hebat di rumah tangga mereka, bahkan Mamanya pernah sekali meninggalkan rumah ayahnya sambil menggendong Anto kecil yang diikuti Bang Ucok dikala berusia 7 tahun, pergi dari rumah dengan amarah dan meninggalkan surat yang berisi permintaan cerai pada suaminya.

Dulu, di kala anak - anak masih kecil, dikala ibunya Anto masih muda, di kala rumah tangga mereka baru berusia di bawah 10 tahun, dulu ketika ekonomi keluarga belum mantap, ketika jiwa belum stabil, ketika semua masalah diselesaikan dengan emosi, Anto tak tahu bahwa untuk menjadi tenang dan berwibawa serta penuh kasih sayang seperti Mama, seorang wanita memerlukan banyak tahun untuk memberinya pengalaman agar lebih dewasa dalam mengarungi bahtera kehidupan dan diperlukan juga kesabaran dari sang suami untuk mendidik sang istri agar menjadi istri yang solihah, dan semua itu tidak dapat dilakukan dalam satu kedip mata, membutuhkan tahunan untuk memproses dari seorang wanita lugu dan tidak tahu apa - apa, serta jiwa yang sangat tidak stabil menjadikan seorang wanita dewasa yang pengertian, menyayangi dan menjadi wanita idaman.

Wanita idaman pendamping yang lembut dan sabar yang sudah matang dalam asam garam kehidupan, dan itu tidak mungkin ditemukan ketika usia pernikahan masih seumur jagung.

Hmm, paham kan ... Anto akan menemukan istri idaman yang seperti ibunya, bila Anto melalui proses seperti ayahnya juga, butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan istri idaman seperti yang diharapkan Anto.

"... dan para wanita (istri) mempunyai hak yang seimbang dengan hak laki - laki (suami) dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf, akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (Q.S Al Baqarah : 228)

Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

^_^

Salam santun dan keep istiqomah ...

--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan ... ----

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#
------------------------------------------------
.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa'atuubu Ilaik ....

Saturday, October 20, 2012

Amanat untuk Istri, sosok Khadijah di akhir zaman

Martin M. Baihaqi: Amanat untuk Istri, sosok Khadijah di akhir zaman


Pesan isteri ‘Auf bin Muslim Ashaibani kepada puterinya yang akan menikah dengan al Haris bin Amr, raja negeri Kandah.

“Wahai anakku! Kalaulah wasiat ini untuk kesempurnaan adabmu, aku percaya kau telah mewarisi segala-galanya, tetapi ia sebagai peringatan untuk yang lalai dan panduan bagi orang yang menggunakan akal.

Andai kata wanita tidak memerlukan suami kerana berasa cukup dengan kedua ibu bapanya, tentu ibumu adalah orang yang paling berasa cukup tanpa suami. Tetapi wanita diciptakan untuk lelaki dan lelaki diciptakan untuk wanita.

Wahai puteriku, Sesungguhnya engkau akan meninggalkan rumah tempat kamu dilahirkan dan kehidupan yang telah membesarkanmu untuk berpindah kepada seorang lelaki yang belum kamu kenal dan teman hidup yang baru.

Kerana itu, jadilah 'hamba' wanita baginya, tentu dia juga akan menjadi 'hamba' lelaki bagimu serta menjadi pendampingmu yang setia. Peliharalah sepuluh sifat ini terhadapnya, tentu ia akan menjadi perbendaharaan yang baik untukmu:

Pertama dan kedua, berkhidmat dengan rasa puas serta taat dengan baik kepadanya.

Ketiga dan keempat, memerhatikan tempat pandangan matanya dan bau yang diciumnya. Jangan sampai matanya memandang yang tidak cantik daripadamu dan jangan sampai dia mencium bau yang busuk daripadamu.

Kelima dan keenam, memerhatikan waktu tidur dan waktu makannya, kerana lapar yang berlarutan dan tidur yang terganggu dapat menimbulkan rasa marah.

Ketujuh dan kelapan, menjaga hartanya dan memelihara kehormatan serta keluarganya. Perkara pokok dalam masalah harta adalah membuat kira-kira dan perkara pokok dalam keluarga adalah pengurusan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan membangkang perintahnya dan jangan membuka rahsianya. Apabila kamu mengengkari perintahnya, bererti kamu melukai hatinya. Apabila kamu membuka rahsianya kamu tidak akan selamat daripada pengkhianatannya.

Kemudian janganlah kamu bergembira di hadapannya ketika dia bersedih atau bersedih di hadapannya ketika dia berseronok.

Jadilah kamu orang yang sangat menghormatinya, tentu dia akan sangat memuliakanmu.

Jadilah kamu orang yang selalu sekata dengannya, tentu dia akan sangat belas kasihan dan sayang kepadamu.

Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak akan dapat apa yang kamu inginkan sehingga kamu mendahulukan kehendaknya daripada keredaanmu, dan mendahulukan kegembiraannya daripada kesenanganmu, baik dalam hal yang kamu sukai atau yang tidak kamu senangi dan Allah pasti memberkatimu.”

Kitab al-Bayan wa'l-Tabyin oleh al-Jahiz

Menikah adalah...


Bukan sekedar pesta yang riuh oleh kerabat, relasi penting ,bukan ajang pamer tamu kehormatan, panggung megah, dekorasi wah ataupun pesta yang meriah...

Menikah...

Bukan sekadar membentuk tim kerja untuk menghasilkan uang untuk membeli segala jenis harta yang melimpah..
Bukan sekedar sarana belajar memasak, menjahit bagi istri dan sarana belajar membetulkan peralatan listrik bagi
suami..

Menikah...
Bukan sekedar menyamakan hobi dan kegemaran sehingga sampai ada adagium humor: Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..
Kalau sama-sama suka seafood berarti masa depan cerah...
(That simple ?! :)

Menikah bukan sekedar itu…

Menikah berbeda dengan perumpamaan sepasang sandal, yang hanya punya aspek kiri dan kanan..

Menikah adalah penyatuan dua manusia.. pria dan wanita.Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya...

So,
Menikah adalah ...
Menyatukan dua isi kepala, dua ide, dua impian menjadi sesuatu yang besar - Bermakna - tak hanya untuk kita,pasangan dan keluarga namun juga untuk orang lain di sekitar.

Menikah adalah...
Memutuskan berlabuh di satu pantai, ketika ratusan kapal pesiar gemerlap memanggil-manggil...

Menikah adalah...
Cara meraih sempurnanya agama, hingga menikah dikatakan sempurna menjalani setengah dien..

Menikah adalah...
Keberanian untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Memupuk toleransi tingkat tinggi dan memaklumi pasangan apa adanya.

Menikah membutuhkan kelapangan hati untuk melebur kata ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’..

Menikah adalah...
Proses pendewasaan seseorang untuk lebih berani mengambil sikap dan memutuskan bahkan untuk urusan terkecil sekalipun.
Kerjasama hebat untuk bergerak, bersinergi untuk mendapatka tiket surgaNya.

Menikah adalah...
Universitas kehidupan dimana cobaan materi, hati, iman adalah ujiannya.

Menikah adalah...
Belajar memaafkan dan belajar berkata "baiklah, itu salahku, akan kucoba memperbaikinya" .
Belajar berkomunikasi dua arah, dimana kita tidak berbicara :
"Kamu harus mengerti keinginanku!", namun harus berani bicara "aku memahami kamu, aku memahami apa yang kamu mau dan cita2kan, mari bersama membangunnya"

Menikah ...
Mengajari kita begitu banyak tentang hidup, tentang bagaimana mencintai Allah dengan sempurna melalui kecintaan kita pada pasangan...

Semoga setiap kita meraih pernikahan berkah, Aamiin...

Friday, October 19, 2012

Keluarga Bahagia

Keluarga Bahagia bukan rumah tangga yang berlimpah harta. Karena banyaknya harta tidak bisa dijadikan ukuran sebuah kebahagiaan.

Keluarga Bahagia juga bukan rumah tangga yang tak pernah mendapat masalah, tak pernah mengalami kesusahan, atau tak pernah terlibat perselisihan.

Tapi Keluarga Bahagia adalah rumah tangga yang 'Rajin', 'Pandai' dan 'Cerdas'.

Rajin dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai kapasitasnya masing-masing secara istiqamah. Rajin ibadah mahdhahnya. Juga Rajin dalam mengerjakan pekerjaannya masing-masing dengan cara yang halal.

Pandai bersyukur atas sekecil apapun rizqi atau ni'mat yang didapat. Pandai menghargai sekecil apapun usaha atau pengorbanan pasanganya masing-masing. Dan tentunya Pandai mengingatkan dengan cara yang bijak jika terjadi kelalaian.

Cerdas dalam menyikapi dan menyelesaikan setiap masalah, tanpa menciptakan masalah baru. Cerdas dalam menciptakan suasana harmonis. Juga Cerdas melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, serta lingkungannya.

Subhanallah..
Jadikan kami Keluarga-keluarga Bahagia, Yaa Allah..

~ Abu Lathifa ~

Tuesday, October 16, 2012

Dari perlakuan orangtua kepada anak, anak akan belajar bersikap

Jika anak banyak dicela,
ia akan terbiasa menyalahkan

Jika anak banyak dimusuhi,
ia akan terbiasa menentang

Jika anak dihantui ketakutan,
ia akan terbiasa merasa cemas

Jika anak banyak dikasihani,
ia akan terbiasa meratapi nasibnya

Jika anak dikelilingi olok-olok,
ia akan terbiasa menjadi pemalu

Jika anak dikitari rasa iri,
ia akan terbiasa merasa bersalah

Jika anak serba dimengerti,
ia akan terbiasa menjadi penyabar

Jika anak banyak diberi dorongan,
ia akan terbiasa percaya diri

Jika anak banyak dipuji,
ia akan terbiasa menghargai

Jika anak diterima oleh lingkungannya,
ia akan terbiasa menyayangi

 

Jika anak tidak banyak dipersalahkan,
ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri

Jika anak mendapatkan perngakuan dari kiri kanan,
ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya

Jika anak diperlakukan dengan jujur,
ia akan terbiasa melihat kebenaran

Jika anak ditimang tanpa berat sebelah,
ia akan terbiasa melihat keadilan

Jika anak mengenyam rasa aman,
ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang sekitarnya

Jika anak dikerumuni keramahan,
ia akan terbiasa berpendirian: “Sungguh indah dunia ini!”

…Bagaimanakah anak anda? atau Bagaimana anak anda nanti?

(Dorothy Low Nolte, Children Learn What They Live With)

Monday, August 20, 2012

Tipe Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar


Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:

  1. Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.

    Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta'ala,

    Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).

  2. Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.

    Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta'ala berfirman,
    Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa'. (al-Furqan:74).

    Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa'I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.

  3. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,

    Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,"Seorang janda."Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.

    Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,

    Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.

    Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami' ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, "Hadits ini shahih."

  4. Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat, karena Imam Syafi'I pernah mengatakan, "Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya piker yang lemah."

  5. Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat, karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

    Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).

  6. Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya pembantu bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.

    Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta'ala,

    "Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka". (an-Nisa:34).

    Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
    "Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah". (HR. Muslim, Nasa'I dan Ibnu Majah).

  7. Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.

    Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.

    Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.
Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.


Sumber:
http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tipe-wanita-yang-disunnahkan-untuk.html
Fikih Keluarga, Syaikh Hasan Ayyub, Cetekan Pertama, Mei 2001, Pustaka Al-kautsar

Monday, June 4, 2012

Harapan, keinginan dan cita-cita dalam Keluarga



Suatu saat, Aisyah ra istri terkasih Rasulullah saw bercerita kepada suaminya, tentang sebelas perempuan yang saling berjanji untuk jujur dan tidak saling merahasiakan sesuatu pun tentang tingkah laku suaminya. Perempuan pertama berkata, “Suamiku laksana daging onta busuk yang terletak di puncak gunung.” Kita tahu, puncak gunung itu susah untuk didaki, sekalipun daging itu sudah busuk, ia tak mudah juga diambil. Maksudnya suaminya itu sangat bakhil kepada istrinya dan akhlaknya pun sangat buruk.

Perempuan kedua bercerita, “Riwayat suamiku tak dapat aku sebutkan satu persatu. Aku khawatir berkepanjangan untuk dibicarakan. Jika aku ceritakan, aku takut bulu kuduk yang mendengarkan berdiri semua dan keringatnya pun menjadi bercucuran.” Ia memberi isyarat betapa kasar dan mempunyai banyak aib suaminya itu. Cerita itu bisa membuat pendengarnya jengkel dan mengeluarkan keringat dingin.

Yang ketiga bercerita, “Suami saya sangat cerewet. Kalau saya bicara, ia jatuhkan thalaq. Kalau saya diam saja, ia biarkan saya terkatung-katung.” Sang suami memang tak mau ditunjukkan kesalahannya. Ia bisa menceraikan sang istri bila sang istri berani mengkritiknya. Tetapi bila sang istri diam saja, ia sendiri yang akan mengalami kesusahan.

Yang keempat menuturkan, “Suami saya ibarat hawa Tihawah. Tidak panas tapi tidak dingin, tidak menakutkan juga tidak membosankan.” Suaminya datar-datar saja.

Yang kelima berkata, “Suami saya kalau di rumah ibarat daun si malu-malu, tetapi kalau sudah keluar rumah seperti singa dan tak perlu ditagih apa yang dijanjikannya.” Inilah tipe suami yang malas, cuek dan tak mau tahu urusan rumah tangga bila di rumah, tetapi bila berada di luar rumah ia gesit dan berani.

Yang keenam berkata, “Suami saya kalau makan rakus, kalau minum tak pernah bersisa, kalau tidur tak berganti pakaian dan tak pernah membuka telapak tangannya supaya ketahuan penderitaannya.” Suami tipe ini sangat suka menyimpan rahasia, ia tak ingin urusannya diketahui orang lain dan tak mau juga menceritakan penderitaannya.

Yang ketujuh berkata, “Suami saya tukang pukul, pandir, semua sifat jelek ada padanya. Ia suka melukai kepalamu, badanmu atau kedua-duanya.”

Yang kedelapan berkata, “Suami saya kulitnya halus laksana bulu kelinci dan wangi laksana bunga melati.”

Yang kesembilan berkata, “Suami saya rumahnya besar, pedangnya panjang, asap dapurnya tak pernah berhenti dan pintu rumahnya selalu terbuka.”

Yang kesepuluh berkata, “Suamiku adalah raja, bahkan lebih dari itu. Ia punya onta lebih banyak di kandang dan jarang keluar. Kalau mendengar suara genderang, onta-onta itu sudah merasa akan mati.” Maksudnya, suaminya ini sangat menghormati tamu dan selalu tersedia jaminan bagi tamunya.

Yang kesebelas berkata, “Suamiku ibarat Abu Zar”. Siapakah Abu Zar itu? Yaitu orang yang telinganya sarat dengan hiasan dan ototnya kekar. Ia pandai menyenangkanku dan aku pun dapat menyenangkannya. Ia menyusul aku ke padang rumput dengan susah payah, lalu ia berhasil menjadikan aku memiliki kuda, onta, tepung dan penggilingan. Bila di sisinya, aku suka berbicara dan tak pernah mencelanya. Aku enak tidur siang dan makan dengan santai.

Lalu, siapakan Ummu Zar itu? Yaitu yang lumbung makanannya banyak dan rumahnya luas. Siapakah Ibnu Abi Zar? Yaitu yang tempat tidurnya laksana sarung pedang dan bisa menjadi kenyang dengan susu induk angsa. Siapakah puteri Abi Zar? Ia adalah kesayangan ayah dan ibunya, badannya berisi dan membuat para tetangga kanan kiri menjadi iri.”

Siapa pula tetangga Abi Zar? Mereka tidak suka menyebarkan kesana kemari omongan kita, tidak suka mengambil barang-barang kita dan tidak suka memenuhi rumah kita dengan sampah kurma yang jelek.”

Ummu Zar melanjutkan ceritanya, “Suatu hari, Abu Zar sudah keluar rumah pagi-pagi sekali. Ia bertemu dengan perempuan muda yang menggendong kedua anaknya yang menggantungi dirinya seperti anak kera di bawah kedua payudaranya. Kemudian ia menceraikan saya dan menikah dengan perempuan yang ditemuinya itu. Beberapa waktu setelah itu, saya pun menikah dengan laki-laki lain yang terhormat di kalangan sahabatnya. Ia seorang penunggang kuda, pemanah dan memberikan kepadaku kesenangan-kesenangan yang sangat banyak serta menghadiahkan kepadaku setiap binatang sejodoh-sejodoh. Ia berkata, “Makanlah dan berikanlah kepada keluargamu wahai Ummu Zar.”

Ummu Zar berkata, “Andaikata seluruh pemberiannya saya kumpulkan jadi satu, tidak akan sampai sekaleng kecilnya dari pemberian Abu Zar.”

Lalu Aisyah berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Aku dan kamu ibarat Abu Zar dan Ummu Zar.” Dan dalam riwayat lain ditambahkan, “Tetapi Abu Zar menthalaq Ummu Zar, sedangkan saya tidak menthalaq kamu.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, bahkan engkau lebih baik dari Abu Zar’.

Subhanallah, sejarah telah mencatatkannya untuk kita. Betapa sesungguhnya, setiap manusia mempunyai harapan, keinginan dan cita-cita. Begitu pun seorang istri. Ia membutuhkan ruang, waktu dan teman untuk berbagi, menumpahkan keinginan, menceritakan keadaan diri dan suaminya, agar ia tahu, ia tidak sendiri. Agar ia mempunyai keyakinan bahwa setiap orang memiliki harapan dan cita-cita untuk hidup yang lebih baik.

Ibarat rezeki, seorang suami adalah hadiah dari Allah. Bila mendapat suami sebagaimana Abu Zar, tentu berlaksa-laksa syukur senantiasa kita lantunkan dalam setiap detik kehidupan kita. Tetapi, bila kebetulan sang suami adalah daging onta busuk yang untuk mengambilnya pun harus mendaki gunung, mestikah mematikan rasa syukur yang menjadi kunci untuk menambah datangnya nikmat Allah?

Pertanyaan retoris ini tentu tak usah dijawab. Bila setiap diri memiliki hati sebagai jembatan untuk mengadu rindu kepada Allah, tentu harapan-harapan sebesar apapun tak perlu ragu untuk dimiliki. Karena Allah yang Maha Mendengar itu, tak pernah tidur. Allah pengabul segala harap. Ia yang berkuasa untuk membolak-balik hati, Ia pula yang tak pernah menghitung kapan hidayah akan menyapa lembut hati hambaNya. Setiap diri, memiliki saat istimewa untuk merunduk kepadaNya. Jangan pernah saat–saat itu lepas. Berharaplah kepadaNya agar karakter Abu Zar (tanpa ada perceraian), semakin banyak menghiasi akhlak suami.

    “…Dan laki-laki tidaklah sama dengan perempuan.” (AQ Ali Imran :36).

Untuk para ibu, yang  juga manusia yang sangat biasa, pun suami kita. Tak mungkin  mengharapkan suami sebagaimana Rasulullah saw karena bukan bunda Aisyah. Begitu pula sebaliknya. Tetapi, mengharapkan suami mau mendengar isi hati adalah hak seorang istri, mengharapkan suami menjadi lebih baik tanpa mengubahnya menjadi robot mekanis yang tak enak lagi menjadi teman berbagi juga adalah hak seorang istri. Maka, kewajiban istrilah menata diri agar layak menjadi istri harapannya. Dan mempertemukan harapan-harapan itu adalah keindahan, bila kita mengerti apa saja yang mestinya kita butuhkan untuk memadukan harapan.

Engkau yang terbaik yang dipilihkan Allah

Deretan kata-kata di atas adalah buah dari ‘al fahmu‘ yang kita peroleh kekayaan maknanya dari bilik-bilik pengajian setiap pekannya. Ia berisi gumpalan akidah yang telah menemui kebaikannya karena keyakinan bahwa Allah tak salah meletakkan takdirNya. Keyakinan ini membuat kita ikhlas menerimanya. Pun ia juga membuat kita tak mudah berpaling, berharap pada yang lain atau sesekali menoleh ke masa lalu yang sudah kita tutup bukunya.

     ” Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan lakil-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula)….” (QS An Nur : 26)

Sesungguhnya, rezeki telah ditetapkan oleh Allah dan telah jelas pula pencatatannya. Begitu pun jodoh. Ketika akad nikah diucapkan, sesungguhnya, di situlah letak kebaikan dan ukuran serta kadar keimanan kita bertemu dengan pasangan kita. Ibarat kunci bertemu dengan anak kunci, ia sudah pas, tak ada kunci lain yang bisa memasukinya.

Karena ia amanah Allah, maka kunci tadi layak dirawat, agar tak kepanasan atau kehujanan di luar rumah, agar ia tak berkarat atau rusak. Karena bila sang kunci rusak, maka ia tak bisa lagi masuk ke lubang kunci. Begitulah perjodohan. Ia harus dirawat. Ia harus dibiarkan berkembang. Ia adalah cinta kasih yang senantiasa harus ditumbuhkan. Bila pekerjaan ini lancar dilakukan, deposit tabungan cinta akan bertambah, maka rumah tangga akan menjadi surga dunia bagi penghuninya.

Bila ada kekecewaan dan konflik di dalam rumah pernikahan, sesungguhnya, itu adalah kewajaran. Dua hal itu justru  pintu yang akan merekatkan dan menguatkan bila cara penyelesaiannya benar-benar sehat dengan komunikasi produktif dan intensif, maka itulah ta’aruf setelah pernikahan dengan cara yang lain. Dan setelah hal itu usai, mereka akan menambah lagi deposit tabungan cinta.

Ada masanya memang, tabungan cinta itu akan berkurang, bila kekecewaan menumpuk, konflik dibiarkan berkembang dan tak bersama mencari solusi. Maka ada beberapa kemungkinan, kekecewaan terpendam di hati atau meledaknya kekecewaan  menjadi bisul bernanah.

Bila kemudian dihitung-hitung, lebih banyak manakah antara penambahan tabungan dan pengurangannya, itulah jalan pernikahan yang selanjutnya. Perlu bekerja lebih banyak bila ternyata tabungan itu defisit dan berkurang di setiap saatnya. Dan perlu menambah syukur bila tabungan cinta itu bertambah di setiap kali interaksi terjadi.

Begitulah rumah tangga, ia adalah kombinasi sabar dan syukur, kombinasi berbagi dan menerima, kombinasi ketergantungan dan kemandirian, kombinasi  tawa dan tangis, kombinasi saling bantu dalam biduk ketentraman. Begitulah rumah tangga, skala penambahan ibadah yang tak pernah ada batasnya.

Sumber: http://www.fimadani.com/suami-harapan-harapan-istri/
Judul Asli: Suami Harapan, Harapan Istri

Thursday, December 15, 2011

Bermesraan Ala Rasulullah


 
Rasulullah adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Berikut beberapa tips untuk menjaga kemesraan yang dikompilasi dari hadis-hadis dan riwayat yang menceritakan Rasulullah SAW.

Friday, October 7, 2011

Baiti Jannati - Rumahku Adalah Surgaku



Di bawah naungan ajaran Islam, pernikahan sepasang insan suami istri menjalani hidup mereka dalam satu perasaan, menyatunya hati dan cita-cita. Namun adakalanya pernikahan harus berjalan di atas kerikil. Apalagi saat pandangan mulai berbeda, tujuan tak lagi sama. Mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga terasa tak lagi mudah. Di mata kita pasangan selalu serba salah dan penuh kekurangan.

Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan. Karenanya Islam menganjurkan, sebab nikah merupakan gharizah insaniyah. Sebagaimana Allah berfirman,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Ar-Ruum : 30).

Islam memberi penghargaan tinggi pada pernikahan dan Allah menyebutnya sebagai ikatan yang kuat. Dalam al-Quran surat An Nisaa : 21

“… dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”

Demikian agungnya ikatan pernikahan hingga sebanding dengan separuh agama. Begitulah, keputusan dua insan berbeda untuk menikah tentunya dengan pertimbangan matang, faham dan tahu tujuan dari pernikahan. Mengerti betul perbedaan akan disatukan dalam perkawinan. Hingga pemahaman-pemahaman dari ini diharapkan akan membawa pada keharmonisan dan kelangsungan pernikahan pada keabadian.

Pernikahan adalah bangunan yang bertiang Adam dan Hawa yang membangun kecintaan dan kerjasama, penuh mawadah, ketenteraman, pengorbanan, dan juga hubungan rohani yang mulia dan keterikatan jasad yang disyariatkan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar-Ruum :21).

Ayat ini merupakan pondasi kehidupan yang diliputi suasana perasaan yang demikian sejuk. Istri ibarat tempat bernaung bagi suami setelah seharian bekerja keras. Penghiburnya di saat lelah. Suasana rumah yang penuh belas kasih hingga menumbuhkan ketenteraman. Sebaliknya suami yang baik akan memberikan timbal balik yang sama.

Suami sebagai pemimpin rumahnya dengan bantuan dan dukungan istri akan bertindak sebijaksana mungkin mengatur rumah tangganya tanpa harus bersikap otoriter. Dan jika tugas suami istri berjalan seimbang maka akan memberi ketenteraman dan kemantapan dalam hubungan suami istri. Dan anak-anak yang tumbuh dalam “lembaga” yang bersih ini akan tumbuh dengan baik. Sebab individu yang bernaung di dalamnya tahu hak dan kewajibannya sebagaimana sabda Rasulullah ,

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas yang dipimpinnya.”

Maka tak heran kalau keluarga harmonis yang saking penuh mawadah warahmah akan mudah diwujudkan. Insyaallah.

Hak dan kewajiban suami istri

Kesan terbaik yang tertangkap dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dan kewajiban dalam hubungan suami istri. Bahkan hak itu tetap diperoleh Khadijah dari Rasulullah meski Khadijah telah wafat hingga membuat Aisyah cemburu. Padahal Aisyah tak pernah berjumpa dengannya. Hal itu semua karena Rasulullah sering mengingat kebaikan dan jasanya.

Keharmonisan dalam rumah tangga akan dengan sendirinya terwujud jika pihak suami atau istri tahu hak dan kewajiban masing-masing. Rasa kasih dan sayang sebagai fitrah Allah di antara pasangan suami dan istri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya. Sebab secara alami, jiwa mencintai orang yang memperlakukannya dengan berbuat baik dan memuaskan untuknya, termasuk melaksanakan hak dan kewajiban suami istri.

Suami memiliki hak yang besar atas istrinya. Di antara hak itu misalnya:

Menjaga kehormatan dan harga dirinya, mengurusi anak-anak, rumah dan hartanya saat suami tak ada di sisinya. Allah l berfirman :

“….. wanita yang shalihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka…… “ (An Nisa: 34).

Dalam haditsnya Rasulullah bersabda,

“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (Riwayat Bukhari Muslim).

Berpenampilan menyenangkan di depan suami dan bersikap manis. Sebagaimana Rasulullah bersabda,

“Sebaik-baik wanita adalah yang bisa membuatmu senang saat engkau pandang, menaatimu saat engkau perintah dan menjaga dirinya dan hartamu saat engkau tinggal.” (Riwayat Tabrani)

Hak lain suami adalah tidak mengizinkan istri memasukan orang yang dibenci suami, menjaga rahasia suami istri termasuk dalam urusan ranjang, berusaha menjaga kelanggengan bahtera rumah tangga, tidak meminta cerai tanpa sebab syar’i.

Dari Tsauban, Rasulullah berkata, “wanita manapun yang minta cerai kepada suami tanpa sebab, maka haram baginya mencium bau surga”. (Riwayat Tirmidzi, Abu Daud).

Selain itu istri harus banyak bersyukur dan tidak banyak menuntut. Perintah ini sangat ditekankan Islam, bahkan ancaman Allah tak akan melihatnya pada hari kiamat kelak jika istri berbuat demikian.

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup)”

Masih banyak hak-hak suami atas istrinya. Di samping itu suami pun harus memberikan hak istrinya serta menjalankan kewajibannya. Di antaranya adalah memberi makan pada istri apabila ia makan, memberikannya pakaian, tidak memukul wajah istri, tidak menjelek-jelekkan kekurangannya, tidak meninggalkan istri melainkan di dalam rumah, memperlakukan dengan lembut dan menggaulinya dengan baik.

Selain suami memiliki kewajiban memberi nafkah lahir batin, suami berkewajiban mengajarkan ilmu agama apalagi ia memegang kepemimpinan dalam rumah tangga. Hingga ia pun wajib membekali diri dengan ilmu yang syar’i, dengan demikian ia akan mampu membawa keluarganya, istri dan anaknya dalam kebaikan. Jika ia tidak sanggup, mengajar mereka, suami harus mengajak mereka menuntut ilmu syar’i bersama ataupun menghadiri majelis-majelis ilmu. Suami pun harus memberi teladan baik dalam mengemban tanggung jawabnya dan atas apa yang dipimpinnya.

Menerima Kekurangan dan Kelebihan

Kita melihat bagaimana Al-Qur’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan.

Ibaratnya wanita laksana ranting dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu akar selalu membutuhkan ranting dan ranting selalu membutuhkan akar. Sebagaimana firman Allah dalam al-A’raf 189,

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya.”

Karena itu, pernikahan tak hanya menyatukan dua manusia berbeda tapi juga menyatukan dua perbedaan, kelebihan dan kekurangan sepasang anak manusia. Dimana masing-masing akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. Sementara menjadikan kelebihan masing-masing untuk merealisasikan cita-cita pernikahan sesungguhnya.

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al Baqarah : 187).

Dengan memahami hal ini, kehidupan rumah tangga akan tenteram. Dan tenang berlayar, sangat mustahil ditemukan sepasang suami istri yang sempurna segala sesuatunya. Yang bisa dilakukan adalah dengan jalan saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Menerima apa adanya kekurangan atau kelebihan pasangan. Tidak membandingkan pasangan kita dengan yang lain. Karena hal-hal seperti ini tidak akan membuat nyaman hubungan namun hanya akan menjadikan kita makin sensitif dengan segala perbedaan. Dan sekali lagi memaafkan semua kekurangan pasangan adalah lebih baik. Hargailah segala kelebihannya. Dan berterima kasihlah atas semua yang telah dikerjakan dan diberikan pasangan pada kita. Insyaallah ini akan membuat makin manisnya hubungan dengan pasangan.

Mungkin ada hal-hal yang tak kita sukai pada pasangan kita, namun bukanlah masih ada hal-hal baik yang kita sukai dan lihat ada padanya? Kita harus bijaksana menyikapi hal ini.

Kita tak perlu berpura-pura dan menutupi kekurangan kita hanya karena takut tak sempurna di hadapan si dia. Karena bisa saja justru hal ini akan menyeret kita pada hal-hal berbahaya. Moralnya saja dengan berbohong menjanjikan ini dan itu serta janji setinggi langit. Padahal kita tahu tak akan bisa memenuhinya. Jika pasangan tahu tentu ia akan marah dan jengkel hingga membuahkan pertengkaran dan hal-hal buruk lain. Bukanlah lebih baik kita selalu tampil apa adanya, karena itu tak akan membebani kita ?

Sungguh, jika si dia benar-benar mencintai kita tentu dia akan menerima kita apa adanya. Mau menerima kekurangan dan kelebihan kita. Tanpa basa-basi. Yang perlu diingat kita selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya, semampu kita. Insyaallah di rumah kita.

saource: https://www.facebook.com/pages/Sebelum-Engkau-Halal-BagiKu/138509376220354

Mario Teguh's Quotes

Quotes

Blogger Jogja

Traffic Exchange

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

Wibiya provides a web toolbar that enables blogs and websites to integrate the most exciting services and web applications into their blog or website.