Showing posts with label Karakter. Show all posts
Showing posts with label Karakter. Show all posts
Monday, June 11, 2012
Cara Menumbuhkan PD dalam Hitungan Detik
Kata orang, percaya diri nggak di dapat dalam hitungan detik. Apalagi kalau orang yang bersangkutan sedang dalam kondisi yang sangat minder.
Tapi terkadang, situasi yang mendadak hadir, menuntut kita mau nggak mau harus bersikap sebaik mungkin dalam menunjukkan percaya diri kita. So, kali ini kita akan coba sharing tentang beberapa tips yang
dapat meningkatkan rasa percaya diri kamu secara cepat dalam hitungan detik :
1. Tersenyum
Tersenyum bisa beberapa detik membuat kamu lebih rileks, bahkan disaat- saat paling menegangkan sekalipun. Ini karena senyum punya hubungan erat dengan pikiran positif tentang keadaan yang akan kamu hadapi. Dan dengan tersenyum, bukan hanya akan menunjukkan ekspresi ceria di wajah, tapi juga melepaskan hormon endorphin yang membuat perasaan kita bisa lebih tenang, serta meningkatkan sirkulasi darah di wajah. Sehingga dengan tersenyum, kamu akan tampak lebih percaya diri dan siap menghadapi situasi seperti apapun.
Label:
Karakter,
Ketrampilan,
Motivasi,
Percaya Diri
Saturday, January 21, 2012
Pertanggungjawaban: Dalam kesendirian ku menyendiri
Pertanggungjawaban??
Sebuah kata yang sudah sering kita
dengar, dan setiap orang mungkin pernah merasakan, atas setiap amanah yang
mereka emban, atas setiap detik yang mereka perjuangkan, atas setiap keringat
yang mereka kucurkan, dan mungkin atas setiap jiwa yang mereka tangguhkan..
Sahabat, Rasanya begitu sulit, berat
dan begitu terpukul ketika sejenak aku tediam, aku berfikir,
"Pertanggungjawaban di dunia ini tidaklah seberapa lebih menakutkan jika
di bandingkan dengan pertanggungjawaban kita nanti kelak di hadapan Illahi"
Dimana setiap fakta dan kenyataan
akan diungkap lebih detail dengan begitu mengesankan.. Wallahu a'lam
Begitu malu diri ini rasanya, ketika
mulut harus terkunci tak berbicara lagi tentang apa-apa yang kurang pantas
untuk dipertanggungjawabkan, atas setiap janji yang dahulu pernah aku ikrarkan,
atas setiap usaha yang dahulu aku janjikan, namun pada kenyataannya, semua
janji itu banyak yang aku ingkari, semua usaha itu bayak yang aku tidak
lakukan, Dan mengapa bayang-bayang penyesalan itu selalu hadir mengisi
ruang-ruang imajinasi, bayang-bayang yang hanya menunggu kenyataan datang
menghampiri.
Sahabat-sahabatku,
Saturday, January 14, 2012
Cinta dan Karakter Kebangkitan
Saudaraku, ...
Dari Abu Hurairah Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya kelak di hari kiamat, Allah akan berfirman, "Dimana orang2 yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepada-Nya dalam naungan-Ku
di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku""Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. Apakah tidak perlu aku tunjukkan pada satu perkara, jika kalian melakukannya, maka niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian…" (HR. Muslim)
Hadist dari Umar bin Khattab, diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tamhid Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda:
"Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan nabi & bukan syuhada,
tapi para nabi & syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi Allah.
Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa mereka & bagaimana amal mereka?
Semoga saja kami bisa mencintai mereka."
Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam bersabda,
"Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia dari Allah.
Mereka tidak memiliki hubungan nasab & tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama. Demi Allah mereka adalah cahaya & mereka kelak akan ada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut. Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih"
Kemudian Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihy wasallam membacakan firman Allah:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu,
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS. Yunus :62)
Ath-Thabari meriwayatkan dengan isnad yang baik dari Ali Radhiyallaahu anhu, Rasulullaah shalallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:
Saturday, December 31, 2011
Berikan Banyak Pujian dan Anak Akan Jadi Hebat
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perilaku orangtua dalam mendidik sejak dini ternyata berkorelasi langsung dengan sikap, pribadi buah hati di masa mendatang. Jika salah melakukan pengasuhan, yang terjadi justru anak mempunyai sifat atau sikap negatif. Lalu bagaimana mendidik anak yang tepat sehingga menjadi anak hebat (incredible).
Tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Tetapi, orangtua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan.
Hanny Muchtar Darta dari EI Parenting Consultant saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin & Mineral Agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, mengungkap beberapa tips ataupun trik yang bisa menjadi rujukan:
1. Berkomunikasilah secara positif
Orangtua harus mempunyai persepsi bahwa anak itu unik dan mempunyai perbedaan dibandingkan anak yang lainnya. Jadi orangtua harus mempunyai kemampuan untuk membangun bakat yang dimiliki dengan cara yang positif. Kalau ibu ingin anaknya belajar bukan bilangnya "Jangan malas-malas". Tapi akan lebih baik jika mengatakan "Ayo dong semangat belajar".
2. Hindari membandingkan dengan adik, kakaknya atau dengan anak lain.
Jangan membandingkan dengan yang lain, tapi bandingkan dengan kemajuan yang diperoleh buah hati. Jangan mengatakan "Kakak kamu lebih hebat atau kakak kamu lebih rajin belajarnya, jadi kamu harus seperti dia dong. Harusnya "Loh kamu kemarin nilai Matematika dan Bahasa Inggris nilai kurang, seharusnya nanti harus lebih baik".
3. Dorong anak untuk ikut kompetisi.
Anak yang berusia 5-8 tahun lagi senang-senangnya berkompetisi karena dari segi kognotifnya lagi senang-senangnya untuk menunjukkan kebisaannya dan kemampuan yang dimilikinya. Tapi kalau sudah 12 tahun keinginan untuk berkompetisi turun. Jadi kalau ingin membentuk anak yang hebat, ajaklah berkompetisi sejak kecil.
4. Hindari memotong pembicaraan.
Seringkali dilakukan orangtua yang tidak sabar mendengarkan dan selalalu menyalahkan. Yang harus dilakukan adalah mendengarkan terlebih dahulu dengan penuh perhatian. Anak juga ingin dihargai pendapatnya. Jika ini dilakukan bisa melatih anak berani mengemukakan pendapat, atau gagasan yang dimilikinya.
5. Fokus pada tujuan
Terkadang orangtua asal memerintahkan. Misalnya, mengatakan jangan lupa baju olahragamu dibawa pulang atau mengatakan jangan malu bertanya nanti sesat di jalan. Lebih baik mengatakan, "Kalau berani bertanya, itu tanda anak cerdas,". Jadi bicaranya lebih positif sehingga membuat anak menjadi terinspirasi.
6. Memberikan banyak pujian, tentunya di tempat dan waktu yang tepat
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk buah hati. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula."
7. Berikan pelukan, belaian, dan ciuman
Biasakan memeluk buah hati hingga 12 kali sehari. Tujuannya supaya ia merasakan adanya kedekatan, kehangatan sehingga mampu membangun ikatan emosional yang baik disamping anak akan merasa diterima dan didukung oleh orangtuanya.
8. Membangun aturan sederhana.
Melatih kedisiplinan bisa dilakukan dengan membangun rutinitas misalnya: jam makan, jam tidur, makan pada tempat yang benar, dan lain sebagainya. Ini akan melatih anak hidup secara disiplin. Meski demikian, sebagai orangtua harus memberikan contoh melakukan kedisiplinan. Jangan terus dilanggar.
9. Hindari untuk bicara dengan anak ketika sedang mengalami emosi negatif
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.
Sumber: http://www.tribunnews.com/
Tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Tetapi, orangtua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan.
Hanny Muchtar Darta dari EI Parenting Consultant saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin & Mineral Agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, mengungkap beberapa tips ataupun trik yang bisa menjadi rujukan:
1. Berkomunikasilah secara positif
Orangtua harus mempunyai persepsi bahwa anak itu unik dan mempunyai perbedaan dibandingkan anak yang lainnya. Jadi orangtua harus mempunyai kemampuan untuk membangun bakat yang dimiliki dengan cara yang positif. Kalau ibu ingin anaknya belajar bukan bilangnya "Jangan malas-malas". Tapi akan lebih baik jika mengatakan "Ayo dong semangat belajar".
2. Hindari membandingkan dengan adik, kakaknya atau dengan anak lain.
Jangan membandingkan dengan yang lain, tapi bandingkan dengan kemajuan yang diperoleh buah hati. Jangan mengatakan "Kakak kamu lebih hebat atau kakak kamu lebih rajin belajarnya, jadi kamu harus seperti dia dong. Harusnya "Loh kamu kemarin nilai Matematika dan Bahasa Inggris nilai kurang, seharusnya nanti harus lebih baik".
3. Dorong anak untuk ikut kompetisi.
Anak yang berusia 5-8 tahun lagi senang-senangnya berkompetisi karena dari segi kognotifnya lagi senang-senangnya untuk menunjukkan kebisaannya dan kemampuan yang dimilikinya. Tapi kalau sudah 12 tahun keinginan untuk berkompetisi turun. Jadi kalau ingin membentuk anak yang hebat, ajaklah berkompetisi sejak kecil.
4. Hindari memotong pembicaraan.
Seringkali dilakukan orangtua yang tidak sabar mendengarkan dan selalalu menyalahkan. Yang harus dilakukan adalah mendengarkan terlebih dahulu dengan penuh perhatian. Anak juga ingin dihargai pendapatnya. Jika ini dilakukan bisa melatih anak berani mengemukakan pendapat, atau gagasan yang dimilikinya.
5. Fokus pada tujuan
Terkadang orangtua asal memerintahkan. Misalnya, mengatakan jangan lupa baju olahragamu dibawa pulang atau mengatakan jangan malu bertanya nanti sesat di jalan. Lebih baik mengatakan, "Kalau berani bertanya, itu tanda anak cerdas,". Jadi bicaranya lebih positif sehingga membuat anak menjadi terinspirasi.
6. Memberikan banyak pujian, tentunya di tempat dan waktu yang tepat
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk buah hati. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula."
7. Berikan pelukan, belaian, dan ciuman
Biasakan memeluk buah hati hingga 12 kali sehari. Tujuannya supaya ia merasakan adanya kedekatan, kehangatan sehingga mampu membangun ikatan emosional yang baik disamping anak akan merasa diterima dan didukung oleh orangtuanya.
8. Membangun aturan sederhana.
Melatih kedisiplinan bisa dilakukan dengan membangun rutinitas misalnya: jam makan, jam tidur, makan pada tempat yang benar, dan lain sebagainya. Ini akan melatih anak hidup secara disiplin. Meski demikian, sebagai orangtua harus memberikan contoh melakukan kedisiplinan. Jangan terus dilanggar.
9. Hindari untuk bicara dengan anak ketika sedang mengalami emosi negatif
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.
Sumber: http://www.tribunnews.com/
Thursday, December 29, 2011
Pendidikan Karakter Dan Krisis Keteladanan
Istilah pendidikan karakter sudah sangat familiar bagi kita semua. Pendidikan karakter dalam beberapa tahun terakhir ini menggema menjadi sebuah perbincangan yang hangat di kalangan akademisi. Lagi-lagi era globalisasi menjadi kambing hitam. Hal ini karena globalisasi memang telah mampu menembus segala aspek kehidupan di belahan bumi ini. Dampak globalisasi begitu dahsyat. Banyak hal yang positif yang dapat kita terima, namun sisi lain yaitu dampak negatif tidak dapat kita pungkiri.
Salah satu dampak negatif dari globalisasi adalah munculnya generasi instan, yaitu generasi hedonis, generasi yang menekankan pada aspek kesenangan dan kenikmatan tanpa melalui sebuah usaha kerja keras dan pengorbanan. Generasi instan
terlalu banyak dimanjakan oleh berbagai fasilitas untuk memenuhi
keinginan dan kebutuhannya, manakala ia tidak dapat memenuhi
keinginannya maka muncullah karakter negatif berupa jalan pintas,
menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Jika generasi sekarang sudah
berteman dengan miras, narkoba, seks bebas, tawuran pelajar atau
mahasiswa dan akrab dengan dunia malam, maka hilangkan karakter mereka.
Hilanglah karakter sebuah generasi yang konon menjadi generasi penerus
bangsa.
Pada akhirnya kondisi seperti ini menjadi sebuah "pekerjaan rumah" yang sangat serius bagi mereka-mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dalam hal ini sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sekolah diharapkan menjadi wahana yang tepat untuk menekankan kepada generasi muda tentang pendidikan karakter. Sejauh ini sekolah memang sering mendapat kritik pedas terkait dengan lemahnya karakter generasi saat ini. Sekolah "dituduh" hanya "mencekoki" anak-anak dengan pengetahuan dan ketrampilan (hard skill) belaka namun mengabaikan nilai-nilai kepribadian, ketrampilan mengelola diri (soft skill).
Sebagai respon melalui dinas terkait, sosialisasi tentang pendidikan karakter
sering dilaksanakan. Pada intinya sekolah sebagai lembaga formal
pendidikan mempunyai kewajiban untuk mengintegrasikan pendidikan
karakter dalam setiap mata pelajaran yang ada. Tentunya hal ini membawa
konsekuensi logis bagi setiap guru dalam memberikan materinya harus
mengaplikasikan pendidikan karakter. Cukupkah itu ? Tidak !! Pendidikan karakter
perlu keteladanan. Keteladanan adalah hal yang utama dalam pelaksanaan
pendidikan karakter. Keteladan yang baik perlu ditunjukkan oleh guru
atau warga sekolah lainnya, terlebih dari keluarga dalam hal ini adalah
orang tua. Peran orang tua justru sangat vital dalam membentuk karakter
seorang anak, karena keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal
oleh anak sebelum mereka bersosialisasi dengan dunia luar.
Krisis multidimensi melanda dunia pendidikan Indonesia. Di tengah derasnya modernitas, anak Indonesia kehilangan jati dirinya. Kebiasaan bernilai positif seperti kejujuran, kedisplinan dan nasionalisme mulai menghilang. Indonesia mulai kehilangan generasi terbaik seperti Soekarno, Hatta, Bung Tomo, Syafruddin Prawiranegara dan lainnya. Sosok pahlawan yang kental membudayakan nilai positif baik perkataan dan perbuatan. Generasi anak Indonesia sekarang lebih disibukkan permainan game online, merokok, free seks yang menguras pikiran dan merusak kesehatan. Kondisi ini jelas terlihat dalam peringkat indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia yang melorot tajam di posisi 124 dari 187 negara pada tahun 2011.
Berbagai problematika itu akhirnya membuat pemerintah Indonesia sadar untuk mengambil tindakan pencegahan. Setelah berdialektika dalam proses pemikiran panjang, tercipta gagasan mengembalikan mentalitas dan pandangan positif melalui pendidikan karakter. Sebuah pendidikan yang dicitrakan dapat mengembalikan nilai luhur bangsa Indonesia yang hilang. Apalagi selama ini kontruksi pendidikan karakter dinilai masih kurang. Dalam dunia sekolah hanya dua mata pelajaran (PKN dan Agama) yang mengisi ruang kosong pembentukan karakter anak Indonesia.
Upaya pendidikan karakter mendapat dukungan dan legalitas hukum. Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3 mengamanatkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Gaung pendidikan karakter mulai disosialisasikan secara luas. Dalam banyak kesempatan kalangan pemerintah tidak bosan mengumandangkan pendidikan karakter. Mereka berlomba menjadikan diri “pejuang karakter” yang dianggapnya dapat menyelamatkan masa depan anak Indonesia. Apalagi jamak diketahui, kondisi watak atau “karakter” manusia Indonesia dewasa ini kelihatan mengalami diorientasi kronis. Karena itu, adanya pendidikan karakter diharapkan banyak kalangan dapat menghidupkan kembali nilai positif identitas, etnisitas dan produktifitas demi membangun Indonesia yang lebih baik.
Hilangnya Nilai Keteladanan
Tapi harapan kadang tak sesuai fakta di lapangan. Kenginan “mengarakterkan” anak Indonesia mulai mendapatkan ujian. Pejabat pemerintah yang seharusnya mencerminkan sosok berkarakter justru gagal memberikan wajah positif pendidikan berkarakter. Dalam banyak kesempatan, politisi Indonesia dan aparat penegak hukum mempertontonkan sifat yang kontraprodktif.
Pertama, mereka mengajarkan anak nilai kejujuran, tapi mereka (para pejabat) sibuk korupsi. Anggaran negara dihabiskan demi memperkuat politik pencitraan dan mendanai operasional kelompoknya (partai politik). Selain korupsi, kalangan politisi ramai memperdagangkan produk konstitusi. Pernyataan Ketua MK Mahfud MD belakangan ini misalnya sangat mengejutkan. Menurutnya sejak MK berdiri tahun 2003 ada 406 kali uji materi terhadap berbagai produk UU. Ketika kejujuran menghilang, dimana esensi pendidikan karakter?
Kedua, anak diminta belajar membiasakan hidup dalam kesederhanaan dan tidak bergaya hidup konsumtif. Tapi anggota DPR bersikap kontras dengan sibuk memamerkan kemewahan, bersikap hedonistik dan rajin membeli mobil mahal. Penyimpangan perilaku membuat kita pantas merefleksikan kembali minimnya teladan pendidikan karakter. Para pemimpin bangsa dinilai masih belum berkarakter karena masih belum memikirkan kepentingan rakyat. Kepentingan bangsa masih dikalahkan kepentingan kelompok yang egosentris.
Mengapa nilai keteladanan penting dalam pendidikan karakter? Sebab seperti diakui mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal bahwa pendidikan karakter adalah bagian utama pendidikan. Namun, akhir-akhir ini pendidikan lebih menitikberatkan pada aspek kognitif dan melupakan aspek akhlak (afektif dan psikomotorik) sebagai pilar utama pendidikan. Oleh karena itu, penting membangun kembali pendidikan akhlak yang diikuti dengan pembangunan pendidikan intelektualitas dan emosional, sehingga terwujud pendidikan yang holistik. Untuk melihat itu semua, peserta didik membutuhkan sosok teladan yang dapat diitiru.
Masa Depan Pendidikan Karakter
Merespons keinginan pendidikan karakter di tengah krisis keteladanan bukan perkara mudah. Hati kecil kita sebagai anak bangsa terus bertanya apa makna strategis pendidikan karakter? Apakah terbatas dinilai sebagai slogan kosong dan konsep “langitan” yang minim keteladanan. Jika itu terjadi, pendidikan karakter tidak akan pernah bisa mengubah kepribadian bangsa Indonesia.
Untuk menciptakan keteladanan, ada baiknya kita meneladani apa yang diajarkan Muhammad SAW. Beliau memberikan teladan bahasa perbuatan lebih bermakna dari perkataan. Wajar jika akhirnya pendidikan karakter ke-Islaman yang dibawanya sukses besar. Tugas kita bersama pula menyadarkan pemimpin bangsa agar tidak menjadikan pendidikan karakterbersifat retoris. Mereka harus mampu menyediakan teladan nyata sehingga dapat menginspirasi gerakan pendidikan karakter lebih luas.
Gagasan pendidikan karakter tentu baik, tapi perlu banyak kritik dalam impelementasi. Untuk itu, kita perlu mengembalikan kembali tujuan fundamental pendidikan karakter sebagai sarana meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang.
Akhirnya, kita harus mulai merenungkan dan berfikir ulang pemaknaan pendidikan karakter. Sebab, karakter tidak diciptakan tanpa adanya proses keteladanan. Itu dapat dimulai dari kalangan terdekat seperti orang tua, guru dan pemimpin bangsa. Ketika para pemberi teladan memberikan contoh buruk, persepsi dan tingkah laku buruk yang tercipta. Misalnya, anak mudah menggugat sebuah kalimat “kejujuran” menjadi wacana retoris. Sebab dirinya tidak menemukan kejujuran kepada orang yang memintanya berbuat jujur.
Akhirnya sampailah pada sebuah pesan singkat dari saya. Jangan hanya mengharapkan sekolah dan media menjadi satu-satunya teladan dan guru bagi anak tapi cobalah mencontohkan ketauladanan bagi mereka. Semoga bermanfaat, Salam ..
Sumber: http://hminews.com
Label:
Akhlak,
Karakter,
Keteladanan,
Krisis,
moral,
Pendidikan,
prilaku
Subscribe to:
Posts (Atom)
Mario Teguh's Quotes
Quotes
Traffic Exchange
EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!






